Coffeenity Socialpreneur

Belum lagi waralaba lokal, semisal Kopi Sija, Komar, Kaori Coffee, Warkop Azzahrah, atau nama-nama coffee shop yang akrab dengan milenial dan Gen Z.

Masing-masing dari kedai kopi punya target marketnya sendiri. Cara mereka berpromosi, mendekati pelanggan, dan menanamkan loyalitas pada konsumen juga beda-beda. Namun, tak sedikit yang menggunakan charity sebagai pendekatan menggaet konsumen. Pada saat launching misalnya, kopi gratis dibagikan, begitupun Jumat Berkah, yang wujudnya berupa segelas kopi bukan melulu nasi kotak.

Warkop dan kopi harus diakui merupakan bisnis yang unik. Ada jejaring dan konektivitas atau hubungan antar-manusia di dalamnya, ada pengalaman (experience), dan makna cerita di balik produknya. Kopi memang lebih dari sekadar minuman. Ia adalah katalisator, pemicu dan pemacu kreativitas, dan juga peneguh eksistensial.

Caffè Sospeso

Kisah paling otentik tentang semangat berbagi kopi biasa dibaca pada cerita tentang “kopi di dinding”. Sebenarnya, ini tak beda dengan kebiasaan kita mentraktir teman ngopi, atau kita ditraktir teman. Namun, secara filosofis, kopi di dinding lebih pada esensi kebaikan, tanpa perlu diketahui siapa yang akan menerima manfaat dari kebaikan itu.

BACA JUGA:  Mitigasi Kerawanan Sosial di Kota Makassar dalam Perspektif Ketenagakerjaan

Konsep kopi di dinding berkembang di Naples, Italia, sejak awal abad ke-20. Konsep ini, dalam Bahasa aslinya disebut Caffè Sospeso atau Suspended Coffee. Konsep ini tumbuh dari tradisi di kedai-kedai kopi kelas pekerja.

Pada Perang Dunia II, banyak warga mengalami kesulitan ekonomi, bahkan sampai kelaparan. Muncullah semangat berbagi itu. Seorang pelanggan kopi datang ke kedai, memesan dua cangkir, tetapi dia hanya meminum satu cangkir, tetapi dia membayar untuk dua cangkir. Pay it forward. Cangkir kedua dibiarkan “menggantung” atau disubsidi secara diam-diam (sospeso). Nanti orang yang datang kemudian, bisa mengambil kopi anonim itu secara gratis karena sudah dibayarkan di muka.

Begitulah cara penduduk kota menolong sasamanya dengan tetap respek kepada orang yang ditolong (pengen ngopi, tetapi tidak punya uang). Kabarnya, konsep ini telah diadopsi di banyak negara.

Kata-kata Dr. Leo Buscaglia, motivator dan inspirator asal Amerika Serikat (intisari.grid.id), bisa menjadi renungan. Buscaglia bilang, “Terlalu sering kita meremahkan kekuatan sebuah sentuhan, sekilas senyuman, sebuah kata, mendengar keluhan orang lain, pujian tulus, atau Tindakan kecil membantu orang lain, padahal semua itu punya kekuatan untuk mengubah kehidupan.” (*)