Mungkin di sela-sela ruang fungsional mereka, wartawan dapat berbuat mengisi ruang kosong demi masa depan generasi muda itu. Kita jurnalis bisa mengambil peran. Tentu tidak cukup datang membawa diri, tetapi kita perlu mengisi amunisi pengetahuan dan keterampilan Oleh sebab itu, wartawan seharusnya tidak boleh berhenti belajar dan belajar. Belajar tentang ilmu dan pengetahuan perihal profesinya.
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) beberapa tahun silam melaksanakan Sekolah Jurnalistik pertama pada era kepemimpinan Hendry Ch.Bangun sebagai Ketua PWI Pusat di Bandung. Saya termasuk salah seorang yang menjadi pemateri pada forum tersebut. Namun yang menarik, seorang teman memperkenalkan apa yang disebut “multitasking journalisme”. ‘Genre’ jurnalistik ini diartikan sebagai kemampuan seorang wartawan membuat banyak versi karya jurnalistiknya seperti berita video, foto, dab teks yang tujuannya menarik publik bisa menikmatinya. Kemampuan menerapkan “multitasking journalism” ini jelas menuntut penguasaan informasi dan teknologi (IT) yang mumpuni. Kita tidak akan bisa menerapkan model jurnalistik ini tanpa penguasaan teknologi informasi yang baik.
Saya yakin di tengah digital ini teman-teman wartawan tidak merasa asing memanfaatkan gawai sesuai dengan peruntukannya. Sebab kalau tidak menguasai IT untuk menghasilkan karya jurnalistik multiplatform, bisa-bisa itu akan diambil alih oleh media sosial. Dan, ini tantangan yang dihadapi ke depan. (*).











