Jalan aklamasi merupakan pilihan yang elegan. Jika tidak, pasangan 01 akan tumbang secara kurang cantik di kandangnya sendiri, meskipun pasangan 02 akan tetap ‘humble’ menerima kemenangan ini dengan penuh rasa bersyukur. Tokh kedua pasangan kubu dari dua media besar yang sama.
Saat Graha Pena akhirnya menjadi lokasi konferprov, kami hanya berdesis pendek.
“Dari segi tempat, jelas tidak netral”.
Namun panitia berdalih, kedua kandidat dari media yang sama dan demi menciptakan kebersamaan. Sayangnya kebersamaan ini justru dinarasikan menjelang hari H, setelah ST dan MDA berdarah-darah menghadapi penjegalan sebagai kandidat yang masif.
Catatan ini sengaja saya beberkan supaya ke depan tidak terulang lagi jika kita ingin membangun organisasi wartawan ini tanpa rasa dengki, iri, dan dendam yang tiada henti. Saya menangkap, perangkap demi perangkap yang dilakukan panitia dengan batas waktu yang sangat di luar nalar adalah jaring-jaring penjebak yang mencoba menggagalkan pencalonan sosok ST dan MDA.
Mari kita perbaiki
Banyak pekerjaan ke depan yang harus ditata ulang. Saat pesta usai, teman-teman daerah menyampaikan curhat yang sebelumnya tidak pernah sampai. Kalau pun sampai tidak ada realisasi dan solusi. Yang tersisa hanyalah maladministrasu dan malorganisasi.
Terlalu banyak pekerjaan yang kita sia-siakan. Begitu banyak peluang yang kita abaikan. Begitu terbuka ruang untuk berbuat mengikapi era yang merasuki seluruh aspek kehidupan digital manusia Indonesia. Pengaruh teknologi informasi dan bawaannya yang kini sampai ke ruang domestik kita yang paling privasi.
Wartawan yang bekerja di sektor informasi jelas menjadi penetrasi teknologi informasi itu sebagai alat bantu profesi. Itu jika ditinjau dari asas manfaatnya. Tetapi dari segi mudaratnya, justru lebih mengerikan. Dia menyasar anak-anak yang belum waktunya menerima informasi yang kadang bukan mereka konsumennya.
Lihatlah anak-anak tanggung saling tawuran di kota-kota besar. Pemicunya, saling gosok, saling gesek, lalu saling gasak, gegara ‘perang’ memanfaatkan piranti teknologi yang mengusung informasi. Anak-anak yang kelak menjadi penerima estafet kepemimpinan bangsa ini puluhan ke depan, harus kita hindarkan dari perilaku menyimpang seperti ini.
Lalu siapa yang bertanggung jawab atas mereka. Orang tua, masyarakat, dan guru tentu. Orang tua bertanggung jawab selama mereka berada di rumah. Masyarakat berwewenang mengontrol mereka ketika berinteraksi di lingkungannya. Guru hanya bertanggung jawab selama sebatas di ruang kelas dan di halaman sekolah.











