“Bawalah anak saudaramu ini kembali ke negerinya, dan lindungi dia dari kaum Yahudi. Demi Tuhan, kalau mereka melihatnya dan tahu seperti aku mengenalnya, akan berbuat jahat terhadapnya. Anak saudaramu itu kelak akan menjadi orang besar”.
Setelah kejadian itu, Muhammad mulai mengalami tanda-tanda kekuatan batiniah yang mendukung tanda-tanda lain yang telah dia sadari sebelumnya.
“Mimpi yang benar. Itu bagaikan kilatan cahaya,” jawab Muhammad saat ditanya mengenai tanda-tanda tersebut.
Mimpi-mimpi itu membuat Muhammad lebih sering menyendiri. Beliau pergi melakukan penyendirian spiritual (tahannuts — suatu bentuk ibadah yang dilakukan dengan cara menyendiri dan mengasingkan diri untuk menghadap Allah agar terhindar dari gangguan duniawi). Lokasi yang dipilihnya adalah Gua Hira, gua kecil di puncak Jabal Nur, 6 km dari Masjid Haram Mekkah.
“Tahannuts” bukan sesuatu yang aneh bagi kaum Quraisy. Aktivitas menyendiri ini sudah menjadi praktik tradisional di kalangan nasab Ismail. Pada setiap generasi selalu ada satu atau dua orang yang mengasingkan diri ke tempat yang terisolasi dalam waktu sekian lama agar terhindar dari kontaminasi dunia manusia.
Dalam praktik “tahannuts” tersebut, Muhammad membawa berbagai perbekalan dan mengkhusukkan diri pada malam-malam tertentu untuk menyembah Tuhan. Setelah itu ia pergi ke keluarganya. Beliau akan kembali lagi ke bukit itu dengan membawa lebih banyak bekal.Selama beberapa tahun, saat meninggalkan kota dan menuju ke tempat meditasinya, beliau sering mendengar jelas ucapan.
“Assalam alaikum, wahai Utusan Allah (Rasulullah),” membuat beliau berbalik dan mencari orang dan arah suara itu. Beliau sadar, tidak melihat seorang pun. Seolah-olah kata itu berasal dari sebuah pohon atau batu.
Pada suatu malam menjelang akhir Ramadan — bulan yang biasa digunakan ber-”tahannuts” — dalam usia yang keempat puluh, saat beliau sedang sendiri di dalam gua, datang kepadanya seorang malaikat dalam rupa manusia.
“Bacalah!,” malaikat itu berkata.
“Aku tidak dapat membaca,” jawab Muhammad.
Muhammad kemudian menuturkan.
“Malaikat itu mendekapku sampai aku sulit bernapas. Kemudian dia melepaskanku dan berkata.
”Bacalah”.
Kujawab,” Aku tidak dapat membaca”.
Ia mendekapku lagi hingga aku pun merasa tersesak. Ia melepaskanku dan berkata.
“Bacalah”.
Dan kembali kujawab,” Aku tak dapat membaca”.
Lalu, ketiga kalinya, ia mendekapku seperti sebelumnya, melepaskanku dan berkata.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakanmu!
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar manusia dengan pena (qalam),
Dan mengajar kepada manusia
apa yang tidak diketahuinya.(QS.96:1-5
Muhammad mengulangi kata-kata yang diucapkan malaikat itu, yang kemudian meninggalkannya.
“Sepertinya kata-kata itu tertanam dalam hatiku,” kata Muhammad.
Beliau takut, jangan-jangan telah menjadi penyair yang terilhami jin dan orang yang kesurupan. Oleh sebab itu, dia meninggalkan gua. Di tengah jalan menuruni tebing, beliau mendengar suara di atasnya.
“Hai Muhammad engkau utusan Allah dan aku Jibril,” terdengar suara yang membuat Muhammad menengadah ke arah langit. Di sana beliau melihat tamunya. Masih dapat dikenalnya, namun sekarang jelas dalam rupa malaikat, memenuhi seluruh cakrawala.
“Hai Muhammad, engkau Rasulullah dan aku Jibril,” dia berkata yang membuat Muhammad berdiri terpaku menatap malaikat tersebut.
Muhammad berpaling dari malaikat, namun ke mana pun beliau memandang, ke utara, ke selatan, ke timur, ke barat, malaikat selalu ada di sana, menapak di cakrawala. Akhirnya, malaikat itu pergi. Nabi kembali menyusuri tebing menuju ke rumahnya.












