Makassar, NusantaraInsight — Orang-orang yang berprofesi sebagai pekerja di atas samudra selalu menyimpan kisah-kisah menarik dan lucu. Realitas inilah yang saya dapatkan saat perjalanan pulang ke kampung 27-29 September 2026. Saat KM Tilongkabila menyeberang Laut Flores dari Makassar ke Labuan Bajo, 28 September 2026 siang, Nakhoda KM Tilongkabila, Capt. Subair, yang saya kenal sejak menjadi Mualim I KM Tilongkabila 2018, bertemu saya dan sepupu Abd.Rahman S.Sos di depan informasi Dek 5.
Capt. Subair selalu saja menyimpan kisah-kisah ‘human interest’ (menarik) buat saya yang memiliki daya tarik khusus pada genre kisah seperti ini. Lulusan SMA Negeri 10 Makassar ini berkisah tentang pendidikannya saat di SMP Negeri di sekitar Antang juga. Tidak jauh dari kediamannya,
Dia masih ingat, nama gurunya, Pak Ishak, kebetulan berasal dari Bima. Beliau juga merangkap sebagai wali kelas Subair — yang tentu saja waktu itu masih berumur belasan tahun. Tidak jelas penyebabnya, Pak Ishak ini sangat mengenal muridnya yang satu ini. Ada untung ruginya posisi ini. Untungnya, dikenal oleh guru. “Ruginya”, selalu jadi ‘bulan-bulanan’ ditanyai oleh guru tentang suatu hal yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diajarkan sang guru.
“Pak Ishak ini mengajar Geografi. Sekali waktu, beliau bertanya. Subair apa nama pulau paling utara dan selatan di Indonesia?,” kata Pak Ishak setelah sang murid berdiri di depan kelas.
Mendengar pertanyaan yang rada asing, jelas sang murid kelabakan. Subair pun kebingungan menjawab. Tambah gemetar lagi ketika Pak Ishak kian mendekat. Tangannya langsung mendarat di atas salah satu pipinya. Jemarinya menangkap ‘cambang’ (rambut atau bulu yang timbuh di pipi) pada salah satu pipinya.
“Ayo Subair, apa nama pulau paling utara dan paling selatan Indonesia,” ujar Pak Ishak sembari menarik bulu-bulu di pipi Subair. Sang murid pun menyeringai kesakitan. Tetapi tetap ditahan dan disabari saja.
Kalau zaman sekarang, sang murid diberi sanksi seperti ini urusannya bisa lain. Anaknya sudah melapor kepada orang tuanya dengan dalih ‘dihukum’ guru. Apalagi kalau si anak pulang ke rumah sembari menangis. Ujung-ujungnya tidak jarang guru harus berurusan dengan polisi. Padahal, itu urusan domestik guru terhadap para muridnya demi menyadarkan mereka agar rajin belajar.
Puluhan berlalu, tetapi pengalaman dihukum Pak Ishak dengan tarikan cambang tersebut tetap dikenang Pak Subair. Sekali waktu, setelah menjadi pelaut perusahaan PT Pelni, Pak Subair bergabung dengan KM Awu sebagai Mualim I. Pada tahun 2017, kapal penumpang memilik perusahaan nasional ini berlayar ke selatan. Ke pulau paling selatan yang ditanyakan Pak Ishak. Pulau Rote.
“Andaikan tahu di mana beliau berada, saya ingin menyampaikan kepada Pak Ishak, saya sudah datangi pulau yang ditanyakan dulu,” kelakar Capt. Subair sambil tertawa dalam bincang-bincang santar tersebut.
Tidak berhenti sampai di situ. Pada antara tahun 2021-2022, setelah menjadi Nakhoda KM Wilis, Capt Subair dimutasi menjadi nakhoda kapal tol laut. Daerah operasinya, meliputi Bitung dan Kepulauan Nanusa (di wilayah paling utara Indonesia) hingga ke Pulau Miangas yang berbatasan dengan Filipina.
“Saya juga sudah mendatangi pulau yang paling utara ditanyakan Pak Ishak, Miangas,” ungkap Nakhoda KM Tilongkabila yang kini dikaruniai sepasang anak ini dengan istrinya Hj Dewi Lira Subair yang juga alumnus SMA Negeri 10 Makassar.
“Andaikan tahu keberadaan Pak Ishak, saya ingin menyampaikan ‘sudah mendatangi dua pulau yang ditanyakan dulu,” seloroh Capt.Subair kemudian mohon izin kembali ke anjungan kapal. (mda).












