Masuk Makassar Belum Tahu Bahasa Indonesia, Catatan: “Menapak Jejak Takdir” Husni Tanra

Oleh M.Dahlan Abubakar

Makassar, NusantaraInsight — Ahad (26/7/2026) usai bertemu dengan beberapa orang teman di salah satu kedai di bilangan Jl. Hertasning, saya memutuskan menunaikan salat magrib di Masjid Al Ikhlas Jl. Hertasning V No.1. Salat magrib ini sebenarnya ‘modus’ belaka.

Pasalnya, beberapa bulan lalu Andi Iqbal Burhanuddin, salah seorang Guru Besar Unhas, menyampaikan kalau buku biografi Pak Andi Husni Tanra yang ditulisnya sudah terbit.

Sejak itu saya berpikir bagaimana cara memperoleh buku itu karena di dalamnya ikut juga berkontribusi memberikan testimoni. Saya menyumbang satu tulisan atas permintaan penulisnya. Saya pun mulai berencana menunaikan salat magrib di masjid Al Ikhlas karena maklum Pak Husni Tanra selaku jemaahnya akan selalu hadir salat berjemaah jika tidak sedang ke luar kota.

Saya datang lebih awal, bahkan menjadi jemaah pertama yang tiba di masjid. Ya, berharap memperoleh waktu luang bertemu yang dicari. Ternyata, Pak Husni Tanra bergabung menjelang iqamat. Begitu melihat beliau menyalami seseorang, saya pun mendekat. Sejenak beliau tersentak karena tidak menyangka orang di depannya adalah sosok yang juga sangat akrab dengan dirinya. Lagipula, postur saya berbeda dengan ketika masih sering saat diundang dan menyambanginya di Bagan Anestesi RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo. Saya memeluknya karena lama baru bersua lagi.

BACA JUGA:  Ngobrol Santai dengan Nakhoda KM Tilongkabila: Bernostalgia Dihukum Guru SMP

“Kau sudah dapat bukuku,” pertanyaan pertama Pak Husni Tanra yang seolah menjawab “modus” saya.
“Belum!,” jawab saya.
“Nanti ikut saya pulang (ke rumah),” ajak Pak Husni Tanra sekaligus menuntaskan modus yang saya skenariokan.

Belum Bisa Berbahasa Indonesia

Ada satu kisah kecil di dalam buku,”Menapak Jejak Takdir” ini bocorannya sudah pernah saya peroleh pada satu interaksi dengan Pak Husni Tanra. Yang saya ingat betul adalah ketika masuk Kota Makassar, beliau sama sekali belum tahu berbahasa Indonesia. Ceritanya begini. Habis, ketika masih belajar di SD di Wajo lebih banyak menggunakan bahasa daerah Bugis sebagaimana murid sepantarannya ketika itu.

Pada usia 7 tahun, Husni Tanra masuk sekolah rakyat di Desa Liu Kecamatan Sabbangparu Kabupaten Wajo, tempat dia lahir 29 Januari 1943. Di SR Liu ini hanya sempat sampai kelas 2, kemudian Husni Tanra masuk kota Sengkang dan naik ke kelas 3.

Perpindahan sekolah ini disebabkan terjadinya pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipelopori Abdul Qahar Mudzakkar ketika dia memutuskan bergabung dengan DI/TII 20 Januari 1952. Mengingat situasi keamanan yang tidak kondusif, ketika naik ke kelas 4, bersama orang tuanya, Husni Tanra pindah ke Makassar.

BACA JUGA:  Lailatul Qadri Milik Siapa?

“Saat masuk Kota Makassar, saya tidak tahu berbahasa Indonesia,” kenang Husni Tanra sembari tertawa dalam suatu pertemuan dengan saya di RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo beberapa tahun silam.
Di Makassar dia melanjutkan pendidikan ke SD Mangkura dan tamat pada tahun 1956. Sekolah ini termasuk “sekolah pejabat”. Banyak pejabat lahir dari sekolah ini, di antaranya Ilham Arief Siradjuddin (mantan Wali Kota Makassar) dan Zainal Arifin Paliwang (Gubernur Kalimantan Utara sekarang).

Setamat SD Mangkura anak keempat dari tujuh bersaudara pasangan Andi Tanra Makkarumpa-Andi Siti Mariam ini melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 3 Makassar.

Selepas menamatkan pendidikan di SMP Negeri 3, Husni Tanra mendaftar ke SMA dan diterima pada dua sekolah yang sama-sama favorit, SMA Negeri 1 dan SMA Katolik Cenderawasih. Dua sekolah ini termasuk lembaga pendidikan elite. Banyak pejabat tamat di sekolah ini. Dua gubernur yang lahir dari sekolah ini adalah Zainal Basri Palaguna (alm.) dan Zainal Arifin Paliwang dan mantan Wagub Sulsel Agus Arifin Nu’mang.
Sementara yang dari SMA Katolik Cenderawasih, di antaranya adalah Jenderal TNI Sjafrie Sjamsuddin (Menteri Pertahanan RI sekarang), Prof.Dr.dr. Idrus A.Paturusi, Syahrul Yasin Limpo, dan beberapa nama lainnya.