Tanjung Selor, NusantaraInsight – Upaya memajukan suatu daerah tidak cukup sekadar mengandalkan deretan program atau kebijakan formal semata. Langkah tersebut memerlukan pemikiran strategis, rasa kepedulian, kolaborasi erat, serta kesadaran kolektif demi menyiapkan generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan siap menjadi tumpuan pembangunan di masa mendatang.
Semangat kolaborasi ini mengemuka saat tokoh pemuda Kalimantan Utara (Kaltara), Andi Surya Cipta—yang akrab dipanggil Aco—menggelar ajang silaturahmi bersama jajaran Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan (Sulsel) di Rumah Makan Soto Lamongan, Tanjung Selor, Kaltara, Jumat (11/9/2026) siang.
Agenda yang berlangsung dalam suasana akrab dan hangat tersebut tidak berhenti sebagai ajang tatap muka biasa. Diskusi berkembang menjadi ruang pertukaran ide mengenai pembangunan daerah, khususnya terkait urgensi penguatan sektor pendidikan sebagai pilar utama dalam mencerdaskan masyarakat sekaligus mewujudkan Kaltara yang maju, kompetitif, dan bermartabat.
Andi Surya Cipta merupakan figur asal Parepare, Sulawesi Selatan, yang kini mendedikasikan pengabdiannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Provinsi Kaltara. Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Kepala Seksi di Dinas Pendidikan Provinsi Kaltara.
Di luar aktivitas kedinasannya, Aco dikenal aktif dalam ranah organisasi kepemudaan maupun kemasyarakatan. Ia dipercaya memimpin Satuan Siswa, Pelajar dan Mahasiswa (Sapma) Pemuda Pancasila Kaltara sebagai ketua, sekaligus menjabat Wakil Ketua I Bidang Organisasi Ikatan Pemuda Sulawesi Selatan (IPSS) Kaltara.
Peran aktif tersebut merupakan wujud komitmennya dalam merawat kebersamaan di tanah rantau serta memperluas kontribusi pemuda terhadap pembangunan daerah. Sebagai alumni Universitas Hasanuddin (Unhas), Aco menaruh perhatian besar pada pengembangan kualitas sumber daya manusia lewat jalur pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.
Aco menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memegang peranan krusial terhadap masa depan daerah. Oleh sebab itu, peningkatan mutu pendidikan tidak sepatutnya hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan harus diangkat sebagai gerakan bersama yang melibatkan elemen masyarakat, akademisi, organisasi pemuda, hingga insan pers.
Ia juga berpandangan, tolok ukur keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan tak sebatas pada ketersediaan sarana dan prasarana fisik semata. Lebih dari itu, pendidikan dituntut mampu menghadirkan akses belajar yang adil, menggenjot kualitas tenaga pendidik, menanamkan karakter kuat pada siswa, serta membuka kesempatan seluas-luasnya bagi anak-anak Kaltara untuk mengasah potensi dalam menjawab tantangan zaman.












