Pada tanggal 28 September 2018, Kota Palu dan sekitarnya digasak “”hattrick” musibah, gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi. Masyarakat Palu dan sekitarnya berlomba dan berkerumun di bandara hendak meninggalkan daerah bencana yang menelan ribuan jiwa meninggal dan kerusakan yang luar biasa tersebut.
Mengamati kerusakan akibat dan dampak gempa ini, saya tidak menelepon Pak Husni Tanra. Saya berpikir mustahil kita masuk Palu dengan kondisi yang sangat darurat seperti ini.
“Kenapa kau tidak menelepon saya….,” tiba-tiba masuk telepon dari Pak Husni Tanra suatu hari yang membuat saya sempat gelapan mencari alasan menjawabnya.
“Ih… Prof. Bagaimana kita mau masuk Palu, sementara saya baca di media orang Palu berlomba meninggalkan Kota Palu,” jawab saya.
“Oh…iyo dih.. Nanti kita datang ke Palu untuk melaksanakan kegiatan “trauma healing” (pemulihan trauma),” kata Pak Husni Tanra.
Dua bulan kemudian kami benar-benar mengunjungi Palu selama enam hari dan melihat ganasnya “hattrick” bencana alam itu mengoyak bumi Tadulako.
Inilah sedikit catatan dari begitu banyak kisah yang menarik di dalam buku “Menapak Jejak Takdir” Husni Tanra yang dikemas Prof.Dr. Andi Iqbal Burhanuddin, yang tentu saja akan lengkap jika membaca buku itu. (*).


br
br
br






br
br






br