Masuk Makassar Belum Tahu Bahasa Indonesia, Catatan: “Menapak Jejak Takdir” Husni Tanra

“Saat masuk Kota Makassar, saya tidak tahu berbahasa Indonesia,” kenang Husni Tanra sembari tertawa dalam suatu pertemuan dengan saya di RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo beberapa tahun silam.
Di Makassar dia melanjutkan pendidikan ke SD Mangkura dan tamat pada tahun 1956. Sekolah ini termasuk “sekolah pejabat”. Banyak pejabat lahir dari sekolah ini, di antaranya Ilham Arief Siradjuddin (mantan Wali Kota Makassar) dan Zainal Arifin Paliwang (Gubernur Kalimantan Utara sekarang).

Setamat SD Mangkura anak keempat dari tujuh bersaudara pasangan Andi Tanra Makkarumpa-Andi Siti Mariam ini melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 3 Makassar.

br

Selepas menamatkan pendidikan di SMP Negeri 3, Husni Tanra mendaftar ke SMA dan diterima pada dua sekolah yang sama-sama favorit, SMA Negeri 1 dan SMA Katolik Cenderawasih. Dua sekolah ini termasuk lembaga pendidikan elite. Banyak pejabat tamat di sekolah ini. Dua gubernur yang lahir dari sekolah ini adalah Zainal Basri Palaguna (alm.) dan Zainal Arifin Paliwang dan mantan Wagub Sulsel Agus Arifin Nu’mang.
Sementara yang dari SMA Katolik Cenderawasih, di antaranya adalah Jenderal TNI Sjafrie Sjamsuddin (Menteri Pertahanan RI sekarang), Prof.Dr.dr. Idrus A.Paturusi, Syahrul Yasin Limpo, dan beberapa nama lainnya.

BACA JUGA:  Kembali Jadi Kota Dunia & Dg.Mangalle

Lantaran biaya yang cukup besar di sekolah swasta Katolik Cenderawasih, Husni Tanra bulat memutuskan menjatuhkan pilihan pada SMA Negeri 1 Makassar. Ada kisah menarik selama belajar di sekolah yang sebelumnya bernama SMA Jalan Maros ini.

Dia sangat suka dan bersemangat ketika mengikuti mata pelajaran Kimia tiba. Ada perasaan yang berbeda ketika mata pelajaran ini akan diajarkan. Tidak heran Husni Tanra selalu memperhatikan saat gurunya masuk kelas dan memulai menyajikan materi.
Usut punya usut, ternyata yang membuat dia senang pada mata pelajaran Kimia itu, bukan karena reaksi kimia yang dapat mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain, melainkan reaksi ‘perubahan rasa’ yang muncul dari sang pembelajarnya. Guru Kimia keturunan Tionghoa yang bernama Ibu Tang tersebut, tidak hanya jelas menyampaikan materi dan sabar, tetapi juga cantik. He..he..

Setelah menamatkan pendidikan SMA Negeri 1 Makassar pada tahun 1962, Husni Tanra membidik Fakultas Kedokteran Unhas dan Universitas Indonesia (UI). Pelamar Fakultas Kedokteran Unhas ketika itu 80 orang, yang diterima hanya 2 orang. Salah seorang di antaranya adalah murid yang pindah dari Sengkang ke Makassar di kelas 3 SR dan belum tahun berbahasa Indonesia itu, Husni Tanra.

BACA JUGA:  Selamat Jalan Pahlawan Dunia

Husni Tanra sebenarnya sangat ingin berkuliah di UI, tetapi dengan berbagai pertimbangan, khususnya restu orang tua yang lebih menginginkan tetap dekat dengan anaknya, akhirnya dia memilih berkuliah di Unhas.

brbr
brbr
br