Masuk Makassar Belum Tahu Bahasa Indonesia, Catatan: “Menapak Jejak Takdir” Husni Tanra

Lantaran biaya yang cukup besar di sekolah swasta Katolik Cenderawasih, Husni Tanra bulat memutuskan menjatuhkan pilihan pada SMA Negeri 1 Makassar. Ada kisah menarik selama belajar di sekolah yang sebelumnya bernama SMA Jalan Maros ini.

Dia sangat suka dan bersemangat ketika mengikuti mata pelajaran Kimia tiba. Ada perasaan yang berbeda ketika mata pelajaran ini akan diajarkan. Tidak heran Husni Tanra selalu memperhatikan saat gurunya masuk kelas dan memulai menyajikan materi.
Usut punya usut, ternyata yang membuat dia senang pada mata pelajaran Kimia itu, bukan karena reaksi kimia yang dapat mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain, melainkan reaksi ‘perubahan rasa’ yang muncul dari sang pembelajarnya. Guru Kimia keturunan Tionghoa yang bernama Ibu Tang tersebut, tidak hanya jelas menyampaikan materi dan sabar, tetapi juga cantik. He..he..

Setelah menamatkan pendidikan SMA Negeri 1 Makassar pada tahun 1962, Husni Tanra membidik Fakultas Kedokteran Unhas dan Universitas Indonesia (UI). Pelamar Fakultas Kedokteran Unhas ketika itu 80 orang, yang diterima hanya 2 orang. Salah seorang di antaranya adalah murid yang pindah dari Sengkang ke Makassar di kelas 3 SR dan belum tahun berbahasa Indonesia itu, Husni Tanra.

BACA JUGA:  Air Mata La Pulga

Husni Tanra sebenarnya sangat ingin berkuliah di UI, tetapi dengan berbagai pertimbangan, khususnya restu orang tua yang lebih menginginkan tetap dekat dengan anaknya, akhirnya dia memilih berkuliah di Unhas.

Dokter ‘Bencana’

Interaksi saya dengan Pak Husni Tanra berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang. Ya, bermula sejak saya menjadi wartawan kampus “Identitas” pada tahun 1975. Sebagai kuli tinta kampus, ‘nyaris’ tidak ada aktivis mahasiswa Unhas pada masa itu yang saya tidak hafal di luar kepala. Begitu pun para aktivis rata-rata tetap mengenal saya.

Tetapi interaksi saya dengan Pak Husni Tanra yang serius terjadi ketika ada bencana alam. Pada tahun 1992 Flore dilanda gempa dan tsunami dahsyat. Ribuan orang jadi korban dan rumah rata dengan tanah, terutama desa di pinggir pantai.

Selama beberapa di Maumere dan Ende saya bersama dengan Pak Husni Tanra dan tim medis Unhas-Provinsi Sulsel melaksanakan bakti sosial kemanusiaan di Pulau Flores yang dihantam gempa bumi dan tsunami 12 Desember 1992. Keikutsertaan saya dalam tim ini merupakan awal kolaborasi fungsional saya (sebagai jurnalis) dengan kegiatan penanganan bencana alam yang dilaksanakan Pak Husni Tanra.

BACA JUGA:  Pak Harto Terdiam dengan Jawaban Habibie

Pada tanggal 21 dan 23 Desember 2016, Kota Bima dihajar banjir bandang yang mengakibatkan kota itu bagaikan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Kiriman kayu dari gunung dan sampah kota berbaur menjadi satu.

Mengetahui bencana itu melalui media, saya pun mengontak Pak Husni Tanra melalui telepon dan memberi tahu perihal musibah ini. Saya jarang menelepon beliau jika tidak penting. Makanya, begitu teleponnya berdering dan mengenali nomor yang masuk beliau langsung diangkat.

“Tunggu, saya kontak Jepang dulu,” kata Pak Husni Tanra yang menjabat Presiden “Association of Medical Doctor of Asia” (AMDA) Indonesia.
“Tetapi bersiap-siap saja,” sambung Pak Husni Tanra.

Akhirnya, sebuah tim yang terdiri atas dua orang dokter, seorang dokter muda, dan saya terbang ke Bima 28 Desember 2016 menggunakan pesawat Wings Air. Tiga hari tim medis AMDA Indonesia memberikan layanan kesehatan di Kota Bima, sebelum saya ajak menikmati udara tanah kelahiran saya, Desa Kanca, 55 km di sebelah kota Bima. Kami menginap satu malam di daerah ketinggian dan berhawa dingin di musim kemarau ini sebelum terbang kembali ke Makassar dua hari kemudian.