Dokter ‘Bencana’
Interaksi saya dengan Pak Husni Tanra berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang. Ya, bermula sejak saya menjadi wartawan kampus “Identitas” pada tahun 1975. Sebagai kuli tinta kampus, ‘nyaris’ tidak ada aktivis mahasiswa Unhas pada masa itu yang saya tidak hafal di luar kepala. Begitu pun para aktivis rata-rata tetap mengenal saya.
Tetapi interaksi saya dengan Pak Husni Tanra yang serius terjadi ketika ada bencana alam. Pada tahun 1992 Flore dilanda gempa dan tsunami dahsyat. Ribuan orang jadi korban dan rumah rata dengan tanah, terutama desa di pinggir pantai.
Selama beberapa di Maumere dan Ende saya bersama dengan Pak Husni Tanra dan tim medis Unhas-Provinsi Sulsel melaksanakan bakti sosial kemanusiaan di Pulau Flores yang dihantam gempa bumi dan tsunami 12 Desember 1992. Keikutsertaan saya dalam tim ini merupakan awal kolaborasi fungsional saya (sebagai jurnalis) dengan kegiatan penanganan bencana alam yang dilaksanakan Pak Husni Tanra.
Pada tanggal 21 dan 23 Desember 2016, Kota Bima dihajar banjir bandang yang mengakibatkan kota itu bagaikan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Kiriman kayu dari gunung dan sampah kota berbaur menjadi satu.
Mengetahui bencana itu melalui media, saya pun mengontak Pak Husni Tanra melalui telepon dan memberi tahu perihal musibah ini. Saya jarang menelepon beliau jika tidak penting. Makanya, begitu teleponnya berdering dan mengenali nomor yang masuk beliau langsung diangkat.
“Tunggu, saya kontak Jepang dulu,” kata Pak Husni Tanra yang menjabat Presiden “Association of Medical Doctor of Asia” (AMDA) Indonesia.
“Tetapi bersiap-siap saja,” sambung Pak Husni Tanra.
Akhirnya, sebuah tim yang terdiri atas dua orang dokter, seorang dokter muda, dan saya terbang ke Bima 28 Desember 2016 menggunakan pesawat Wings Air. Tiga hari tim medis AMDA Indonesia memberikan layanan kesehatan di Kota Bima, sebelum saya ajak menikmati udara tanah kelahiran saya, Desa Kanca, 55 km di sebelah kota Bima. Kami menginap satu malam di daerah ketinggian dan berhawa dingin di musim kemarau ini sebelum terbang kembali ke Makassar dua hari kemudian.
Pada 2018, Lombok diguncang gempa. Sebuah Tim AMDA juga dikirim ke sana. Tiga orang dokter plus saya sebagai seorang pendamping. Setelah empat hari melaksanakan tugas kemanusiaan, saya memutuskan kembali ke Makassar lebih awal karena ada tim dari Kementerian Pendidikan Nasional yang akan mewawancarai berkaitan dengan pemberian Lencana Kebudayaan kepada Hamzah Daeng (HD) Mangemba. Saya dipilih sebagai narasumber tunggal kementerian karena pernah menjadi penyunting buku HD Mangemba.
Saat saya baru turun dari pesawat “Bombadier” Garuda Indonesia dan menginjakkan kaki di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, saya membuka gawai. Ternyata, baru beberapa menit silam, Lombok kembali dihajar gempa yang lebih kuat. Saya mengontak teman-teman dokter yang masih di Mataram. Mereka rupanya sedang di masjid Islamic Centre Mataram saat gempa menggoyang kota.


br
br
br






br
br






br