Masuk Makassar Belum Tahu Bahasa Indonesia, Catatan: “Menapak Jejak Takdir” Husni Tanra

Pada 2018, Lombok diguncang gempa. Sebuah Tim AMDA juga dikirim ke sana. Tiga orang dokter plus saya sebagai seorang pendamping. Setelah empat hari melaksanakan tugas kemanusiaan, saya memutuskan kembali ke Makassar lebih awal karena ada tim dari Kementerian Pendidikan Nasional yang akan mewawancarai berkaitan dengan pemberian Lencana Kebudayaan kepada Hamzah Daeng (HD) Mangemba. Saya dipilih sebagai narasumber tunggal kementerian karena pernah menjadi penyunting buku HD Mangemba.
Saat saya baru turun dari pesawat “Bombadier” Garuda Indonesia dan menginjakkan kaki di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, saya membuka gawai. Ternyata, baru beberapa menit silam, Lombok kembali dihajar gempa yang lebih kuat. Saya mengontak teman-teman dokter yang masih di Mataram. Mereka rupanya sedang di masjid Islamic Centre Mataram saat gempa menggoyang kota.

Pada tanggal 28 September 2018, Kota Palu dan sekitarnya digasak “”hattrick” musibah, gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi. Masyarakat Palu dan sekitarnya berlomba dan berkerumun di bandara hendak meninggalkan daerah bencana yang menelan ribuan jiwa meninggal dan kerusakan yang luar biasa tersebut.

BACA JUGA:  Wukuf di Arafah, Hampir Tabrak Istri  

Mengamati kerusakan akibat dan dampak gempa ini, saya tidak menelepon Pak Husni Tanra. Saya berpikir mustahil kita masuk Palu dengan kondisi yang sangat darurat seperti ini.

“Kenapa kau tidak menelepon saya….,” tiba-tiba masuk telepon dari Pak Husni Tanra suatu hari yang membuat saya sempat gelapan mencari alasan menjawabnya.
“Ih… Prof. Bagaimana kita mau masuk Palu, sementara saya baca di media orang Palu berlomba meninggalkan Kota Palu,” jawab saya.
“Oh…iyo dih.. Nanti kita datang ke Palu untuk melaksanakan kegiatan “trauma healing” (pemulihan trauma),” kata Pak Husni Tanra.
Dua bulan kemudian kami benar-benar mengunjungi Palu selama enam hari dan melihat ganasnya “hattrick” bencana alam itu mengoyak bumi Tadulako.

Inilah sedikit catatan dari begitu banyak kisah yang menarik di dalam buku “Menapak Jejak Takdir” Husni Tanra yang dikemas Prof.Dr. Andi Iqbal Burhanuddin, yang tentu saja akan lengkap jika membaca buku itu. (*).