Nelayan Pencari (Kue) Taripang

Kue Taripang yang pada acara Gastronomi Mahasiswa Pariwisata FIB Unhas, Senin (18/5/2026).
Kue Taripang yang pada acara Gastronomi Mahasiswa Pariwisata FIB Unhas, Senin (18/5/2026).

Makassar, NusantaraInsight — Senin (18/5/2026) selagi menunggu kemunculan Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas saya duduk di sofa di ruang tamu dekanat. Belum lama melihat-lihat pesan di gawai, tiba-tiba muncul Dinda Prof.Dr. Fathur Rahman, M.Hum. Setelah menyapa saya sebentar, dia menghilang, masuk ke ruang Dekan FIB Unhas.

“Kita luangkan waktu 6 menit. Kak Dahlan ikut juga untuk menjadi saksi,” kata Prof. Fathur, demikian kami akrab menyapa mantan WD 1 FIB ini sembari berjalan keluar melalui pintu belakang bilik staf Sekretaris Dekan FIB.

Sepanjang perjalanan menujju lantai 2 Gedung Dekanat FIB Unhas di tengah hujan lebat yang belum juga berhenti, benak saya terus bertanya. Apa gerangan yang terjadi. Soalnya, tidak ada penjelasan sebelumnya.

Kami pun memasuki sebuah ruangan yang sudah dipenuhi oleh para mahasiswa. Di atas meja di depan para mahasiswa tersaji entah berapa macam kue. Mereka adalah mahasiswa Program Studi Pariwisata FIB Unhas yang sedang melaksanakan gastronomi.

Gastronomi adalah studi komprehensif yang melampaui sekadar memasak. Bidang ini mempelajari hubungan mendalam antara makanan, budaya, seni, dan ilmu pengetahuan. Ini mencakup seni memilih, menyiapkan, menyajikan, dan menikmati hidangan lezat dengan pemahaman penuh.

BACA JUGA:  Jumpa Srikandi KM Tilongkabila; (1) “Manajer” MBG

Rupanya, saya didaulat juga untuk menjadi juri merangkap sebagai peliput. Pekerjaan pertama, jelas pertama kali buat saya. Saya pun mendatangi beberapa meja yang menyajikan beberapa jenis kue. Yang pertama saya sambangi adalah mahasiswa yang sedang ‘menjaga’ kue “bolu paranggi’, yang sejenis ‘bolu cuke’. Panganan ini sudah biasa saya dengar.

Saya berpindah ke meja sebelah. Bertanya kepada seorang mahasiswa putri.

“Gule,” mahasiswa itu menjawab ketika saya bertanya nama kue di depannya.

Rupanya kue ini berasal dari Wakatobi. Terbuat dari terigu, telur, santan, dan gula merah. Kue ini bisa bertahan lama. Berbulan-bulan. Jadi bisa jadi oleh-oleh yang bisa dibawa pergi dengan jarak waktu yang lama.

Ada juga “banua’ cokelat. Dibuat dari gula, bubuk daun kelor. Bisa tahan setahun.

Lalu saya pindah ke kue ‘taripang’. Nah di sini saya agak lama. Saya bertanya kepada mahasiswa tentang kemungkinan asal usul kue ini. Saya menjelaskan, kemungkinan besar ada hubungannya dengan pencari taripang yang ke Darwin Australia. Itu terjadi pada awal abad XVII. Salah satu jejak perjalanan pelaut Makassar yang mencari teripang ke Australia ini adalah sebuah tempat di Timoe Leste di Distrik Oekusi sekarang ada nama Pante Makassar.

BACA JUGA:  Pak Harto Terdiam dengan Jawaban Habibie

Saya pernah mengunjungi Pante Makassar tahun 1994 dan menginap satu malam di kota kecil ini, lima tahun sebelum berpisah dengan Indonesia setelah referendum tahun 1999. Seorang pengusaha meubel sempat saya jumpai di kota ini. Dia ternyata berasal dari Sulawesi Selatan dan sudah lama berusaha di daerah itu.