Catatan M Dahlan Abubakar
NusantaraInsight, Makassar — Di tengah konflik geopolitik yang terjadi saat ini, kita dikagetkan oleh serangan awal tiba-tiba oleh duet sekutu abadi Amerika Serikat-Israel yang menyerang Iran pada tanggal 28 Februari 2026.
Saat AS melayangkan tawaran gencatan senjata selama dua minggu kepada Iran dilanjutkan dengan negosiasi yang gagal di Islamabad Pakistan selama 21 jam, Sabtu (11/4/2026), Israel malah tetap sibuk memborbardir Lebanon dan Beirut tanpa henti. Alasannya, dalam perjanjian antara AS-Iran, tidak mencantumkan agenda mengenai Gaza dan Lebanon. Dan, AS seperti membiarkan Israel terus berulah dan melanggar perjanjian gencatan senjata dengan Gaza atau Lebanon.
Pertanyaan yang muncul mengapa AS tidak berdaya mengendalikan ulah Israel? Untuk menjawab pertanyaan ini, boleh jadi buku “Lobi Yahudi di Kongres Amerika” yang ditulis Paul Findley layak menjadi referensi. Buku yang berjudul asli “They Dare to Speak Out, People and Institutions Confront Israel’s Lobby” (1989) yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Duta Ilmu Surabaya.
Findley yang lahir 23 Juni 1921 dan meninggal 9 Agustus 2019, menghabiskan waktu 22 tahun menjadi anggota Kongres dari Partai Republik utusan ke-20 Negara Bagian Illinois.
Ayah dua anak yang pernah bertugas sebagai anggota Angkatan Laut AS dengan pangkat letnan ini, termasuk yang mendukung upaya “Council on American–Islamic Relations” (CAIR) untuk meningkatkan citra muslim di Amerika. Dalam sebuah konferensi di Riyadh, Arab Saudi, Findley mengatakan bahwa “kanker sentimen anti-Muslim dan anti-Islam sedang menyebar di masyarakat Amerika dan memerlukan langkah korektif untuk memusnahkan penyakit ini.”
Pada Mei 2006 Findley memimpin delegasi CAIR ke Uni Emirat Arab (UEA), yang menghasilkan proposal UEA untuk membangun properti di Amerika Serikat sebagai dana abadi bagi CAIR. Proposal ini bernilai puluhan juta dolar dalam bentuk sumbangan dari UEA. Ia merupakan anggota dewan “If Americans Knew dan Streit Council”.
Findley mendukung proposal untuk Majelis Parlemen Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNPA), salah satu dari hanya enam orang yang pernah menjabat di Kongres Amerika Serikat yang melakukannya. Sebuah ulasan tentang buku tersebut di The Washington Post menyatakan: “Dikupas dari semua martir yang menyentuh hati, pesan mantan anggota kongres Paul Findley jelas dan sah: pengaruh Israel di Amerika Serikat, termasuk di ruang-ruang dalam pemerintahan, sangat kuat.”
Findley mencatat lobi Israel sebagai salah satu faktor yang berkontribusi pada kekalahannya pada tahun 1982, bersama dengan resesi nasional tahun 1982 dan perubahan batas wilayah distriknya setelah sensus 1980.













