News  

Krisis Multidimensi dalam Dunia Pendidikan

Makassar, NusantaraInsight — Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional dan Hari kebangkitan Nasional tahun 2026, Ma’REFAT INSTITUTE kembali menggelar forum diskusi rutin Ma’REFAT Informal Meeting (REFORMING) ke-33. Tema yang diangkat tidak ringan: “Mungkinkah Indonesia Bangkit di Saat Dunia Pendidikan Kita Dilanda Krisis Multidimensi?”, pada Minggu 24 Mei 2026, di Kantor LINGKAR-Ma’REFAT, Kota Makassar.

Pada diskusi rutin kali ini, menghadirkan dua orang pemantik dari kalangan akademisi. Pemantik pertama Ahmad Faqhruddin, SE., M.Ec.Dev yang merupakan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Makassar, kemudian pemantik kedua Trian Fisman Adisaputra, SE., M.M Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Parepare serta Koordinator Komunitas Literasi Anak Bangsa (KLAB) Kabupaten Sidrap.

Kesempatan pertama diawali Trian, yang membuka diskusi dengan menggambarkan kondisi jumlah kampus yang semakin banyak, akses pendidikan tinggi semakin luas, teknologi pembelajaran semakin canggih. Tetapi di saat yang sama, kita juga menyaksikan meningkatnya pengangguran sarjana, degradasi moral, intoleransi dan krisis etika sosial. Ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan kita bukan sekedar soal akses, tetapi soal arah dan makna pendidikan itu sendiri, ujarnya.

BACA JUGA:  BAZNAS Makassar Terima Audiensi Unhas TV

Data menunjukkan bahwa lebih dari 1 juta pengangguran berasal dari lulusan universitas pada tahun 2025. Data ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum sepenuhnya relevan dengan kebutuhan zaman dan belum cukup membangun daya hidup lulusan, tutur Trian.

Beberapa hal yang digarisbawahi oleh Trian, bahwa saat ini terjadi krisis moral dan etika akademik, kriris relevansi pendidikan tinggi serta krisis cara berpikir, yang kesemuanya itu menjadi instrumen terhambatnya kemajuan dunia pendidikan saat ini. Sambung Trian.

Ahmad Faqhruddin lalu melanjutkan dengan menampilkan sebuah catatan terkait ilusi kemajuan di mana grafik kuantitas menanjak tapi kualitas menurun. Pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tidak berbanding lurus dengan kesiapan kognitif masa depan, ujarnya.

Hal lain yang menjadi sorotan dan catatan adalah paradoks terkait anggaran pendidikan di mana 20 persen APBN dialokasikan untuk pendidikan, namun tata kelola tidak begitu efektif dan tidak maksimal. Jendela peluang yang semakin sempit, bonus demografi bukan jaminan kemakmuran; tanpa kualitas ia adalah beban struktural, sambung Adin sapaan Akrab Ahmad Faqhruddin.

BACA JUGA:  577 Jiwa Baru Lahir dari UKI Paulus

Di akhir pembahasan, Adin menuturkan bahwa lulusan pendidikan tinggi saat ini, tidak hanya perlu memenuhi kualifikasi kompetensi semata, tetapi juga kualifikasi karakter moral dan etis yang membekali lulusan sehingga mampu membentuk dirinya menjadi manusia merdeka, berintegritas dan bermartabat.