Sport  

Lamine Yamal, Anak ‘Broken Home’ yang Jadi Bintang

Makassar, NusantaraInsight — Tidak pernah ada yang menduga, anak ajaib yang berasal dari keluarga miskin akan menjadi seorang bintang Spanyol dalam perhelatan Piala Dunia 2026. Berasal dari orang tua yang hanya menjadi seorang pesuruh, anak ini menjalani masa-masa sulit yang tiada tara. Tidak hanya itu, Lamine Yamal menjalani masa kecilnya di tengah keluarga yang “broken home”.

Awal kehidupannya, ketika kedua orang tuanya mengikat janji sehidup semati, meskipun kemudian Lamine Yamal kini menjadi warga negara Spanyol. Padahal ayahnya berasal dari Maroko. Ibunya bukan seorang “Spaniac” (Spanyol) tulen. Ayah Yamal, Mounir Nasraoui, adalah tukang cat yang berasal dari Larace Maroko.

br

“Ibunya, Sheila Ebana, lahir di Bata Guinea Ekuatorial yang berprofesi sebagai pelayan restoran,” bunyi salah satu narasi di media sosial tiktok yang dirujuk media ini.

Awal Lamine Yamal menjadi warga negara Spanyol ketika kedua orang tuanya memutuskan hijrah ke Catalonia untuk mencari peruntungan hidup yang lebih baik jauh sebelum keduanya menikah. Mereka bertemu di Estolonia Cesc Fasbregas, sebuah daerah di Barcelona yang tidak terlalu jauh Camella.

BACA JUGA:  PSM Tahan Persija di Kandangnya

Sebagai emigran muslim yang sama-sama menyeberang dari Afrika, pasangan Mounir dan Sheila, hidup pas-pasan di negeri rantau. Bahkan untuk kehidupan pokok sehari-hari saja, mereka dibantu oleh orang-orang yang murah hati.

Jumat 13 Juli 2007, bayi di kandungan Sheila lahir ke bumi. Saat memberikan nama untuk jagoan kecilnya, Mounir dan Sheila sepakat menamai anak mereka Lamine Yamal Nasraoui Ebana. Menariknya, nama Lamine Yamal diambil dari nama dermawan yang membantu Mounir dan Sheila membiayai operasi persalinan anak pasangan ini. Sementara kata Nasroui dan Ebana diambil dari nama belakang Mounir dan Sheila.

Hingga usianya dua tahun, Lamine tumbuh dalam kondisi ekonomi yang rapuh. Masa kecilnya tidak lagi sama, setelah orang tuanya memutuskan bercerai saat usia Yamal 3 tahun. Mounir dan Sheila pisah tempat tidur. Mounir tetap di Mataro, sementara Sheila pindah ke Granola.

Ketika hidup berpisah, Mounir dan Sheila tetap menaruh perhatian pada anak semata wayang mereka. Yamal pun silih berganti ke Mataro dan Granola untuk mengunjungi ayah dan ibunya.

BACA JUGA:  Mulai Panas, PSM Tekuk Persis Solo 3-0

Pola hidup dari keluarga “broken home” ini membuat Yamal menjadi anak yang kuat dan mandiri. Ia menjadikan sepak bola sebagai pelampiasan masa lalunya yang sangat menyedihkan karena kedua rumah tangga orang tuanya berpisah.

Perkenalan Yamal dengan si kulit bundar dimulai saat dimasukkan oleh ibunya ke klub lokal La Masia di Granola, yakni saat usianya 4 tahun. Di sinilah Yamal menempa dirinya sebagai calon bintang masa depan. Lalu tibalah saatnya perwakilan La Macia mencium kemampuan Yamal yang brilian dan memutuskan mengusung skill Yamal.

brbr
brbr
br