Pada sesi tanggapan, Zulkifli menyampaikan bahwa berbicara tentang pendidikan, sejujurnya saya bingung ingin memulai dari mana. Kita sudah sampai pada masa di mana kesalahan terakumulasi secara sistemik. Kalau kita berbicara tentang kebijakan pendidikan, pemerintah kita tidak benar-benar serius mengurusinya. Pendidikan harusnya terhindarkan dari tendensi politik. Pendidikan level daerah, tidak lebih dari agenda politik kepala daerah ketimbang upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kita hanya sibuk dengan label administratif, kemudian mengabaikan hal yang substantif. Jika ingin serius meningkatkan kualitas pendidikan, pemerintah harusnya punya SOP intervensi yang jelas dari setiap eskalasi masalah yang terjadi di satuan pendidikan, sambungnya.
Pendidikan di Indonesia punya tujuan yang luhur, tapi kita seakan tak punya arah dalam menjalankannya. Kita sangat sepakat dengan pernyataan Pembicara sebagai dosen, saat mengatakan di Indonesia kita punya masalah dengan pendidikan karakter. Itu terlihat nyata di perguruan tinggi saat ini. Dan memang seharusnya pendidikan karakter itu lebih ditekankan pada pendidikan dasar dan menengah. Karena karakterisasi seharusnya berjalan secara optimal pada level Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen).
Riset-riset tentang dunia pendidikan sudah sangat jelas. Setiap jenjang punya targetnya masing-masing. Tetapi lagi-lagi, kita gagal mengadopsi temuan-temuan mutakhir di bidang pendidikan.
Ini adalah kenyataan dari akumulasi atas salah urus negara khususnya di bidang pendidikan, ujar peserta lainnya di akhir sesi tanggapan.
Diskusi berakhir tepat pukul 16.00 Wita. Seperti biasa diskusi ini dihadiri oleh peserta dari beragam kelompok, dari Aparatur Sipil Negara, Aktivis Lingkungan, serta pelaku usaha UMKM. (WHY)













