Nelayan Pencari (Kue) Taripang

Kue Taripang yang pada acara Gastronomi Mahasiswa Pariwisata FIB Unhas, Senin (18/5/2026).
Kue Taripang yang pada acara Gastronomi Mahasiswa Pariwisata FIB Unhas, Senin (18/5/2026).

Pante Makassar ternyata tempat para pelaut Makassar yang pergi mencari teripang ke Australia. Mereka biasanya mengisi air minum dan perbekalan lainnya di desa pesisir pantai yang kemudian diberi nama Pante Makassar. Nama ini diberikan karena kemungkinan saat itu belum memiliki nama, sehingga para pelaut Makassar yang singgah di situ kemudian memberikan nama Pante (Pantai) Makassar. Atau penduduk setempat yang memberikan nama pantai itu dengan Pante Makassar, karena menjadi tempat singgah para pelaut Makassar yang ke Darwin Australia.

Sekitar tahun 2011 saya berkunjung ke Darwin Australia bersama Rektor Unhas Prod.Dr.dr.Idrus A.Paturusi, bersama tiga wakil rektor Unhas waktu itu (Prof.Dr.Dadang Ahmad, Prof.Dr.dr. Andi Wardihan Sinrang, M.S. — keduanya sudah meninggal, dan Prof.Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. — yang kemudian menjabat Rektor Unhas 2014 s.d. 2022). Juga ada Dekan FIKP Prof. Dr.Ir. Andi Niartiningsih, M.P, dan beberapa dosen dosen Unhas lainnya.

Di pantai marina, di pelabuhan tempat kapal sandeq Korpala Unhas berlabuh, kami bercerita dengan seorang aborigin, penduduk asli Australia di Darwin tentang hubungan masa lalu antara Australia dengan Makassar. Bukti hubungan ini dapat disaksikan melalui berbagai bentuk jenis perahu asal Makassar yang disimpan di Musem Darwin. Museum itu bagaikan sebuah “pelabuhan” bagi berbagai jenis perahu dari Makassar dan Indonesia pada umumnya.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (1): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Yang sangat surprais adalah di museum inilah saya untuk pertama kali menemukan bendera atau panji kerajaan Gowa. Dia disimpan dengan baik dan dirawat bagaikan memperlakukan seorang bayi yang baru lahir. Begitu akurat dan hati-hati mereka memelihara benda-benda bernilai sejarah di musem ini.

Melihat museum ini, saya justru merasa sedih dan prihatin dengan negara dan daerah sendiri, Indonesia dan Sulawesi selatan. Mengapa museum bahari seperti ini tidak ada di Makassar atau Sulawesi Selatan? Mengapa kita justru menemukan warisan leluhur bahari kita di Australia? Begitulah bangsa lain selalu menghargai budaya Indonesia, dibandingkan pemiliknya menghargai budayanya sendiri. Sayang. (*).