Religi  

Menjahit Mulut Sendiri [Mutiara Jumat]

Oleh Aslam Katutu

Makassar, NusantaraInsight — Ada satu nasihat sederhana yang semakin sulit dilakukan pada zaman sekarang: menjaga mulut.

Dahulu, ketika seseorang membicarakan orang lain, ceritanya berpindah dari mulut ke mulut. Kini, cukup dengan sebuah telepon genggam, dengan jempol sebuah cerita dapat tersebar kepada ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan menit.

Di sinilah kita perlu kembali mengingat bahaya gibah dan fitnah.

Allah SWT berfirman:

«“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain…”

QS. Al-Hujurat: 12»

Al-Qur’an bahkan menggambarkan gibah seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal. Sebuah gambaran yang sangat keras tentang betapa buruknya perbuatan tersebut.

Persoalannya, di era media sosial, gibah tidak lagi membutuhkan pertemuan langsung. Cukup dengan mengetik beberapa kalimat, mengunggah foto, atau membagikan video (walaupun sekedar ikut meneruskan informasi), seseorang dapat membicarakan aib orang lain di ruang publik.

BACA JUGA:  Keunikan Masjid Kayu Kapal Munzalan Bulukumba

Yang lebih berbahaya apanila informasi tersebut belum tentu benar.

Kita sering mendengar kalimat, “Katanya…”

Katanya si A melakukan ini. Katanya si B seperti itu. Katanya harga BBM akan naik. Katanya barang akan langka. Katanya akan terjadi sesuatu.

Tanpa melakukan cross-check, informasi langsung diteruskan dan dishare.

Padahal, “katanya” bukan bukti.

Allah SWT memberikan pedoman yang sangat jelas:

«“Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”

QS. Al-Hujurat: 6»

Inilah prinsip tabayyun dalam Islam.

Kita harus memeriksa kebenaran sebelum percaya, apalagi sebelum menyebarkan.

Sebab sebuah informasi palsu dapat menimbulkan akibat nyata. Berita tentang kelangkaan barang, misalnya, dapat membuat masyarakat panik dan melakukan panic buying. Orang membeli jauh lebih banyak daripada kebutuhannya. Barang yang sebenarnya masih tersedia akhirnya cepat habis. Kepanikan yang bermula dari informasi yang belum tentu benar justru dapat menciptakan kelangkaan yang nyata.

Tantangan menjadi semakin besar ketika teknologi Artificial Intelligence (AI) berkembang sangat cepat.

Hari ini orang dapat membuat gambar, suara, video, bahkan film dengan teknologi AI. Wajah seseorang dapat ditempatkan dalam situasi yang tidak pernah terjadi. Suaranya dapat dibuat seolah-olah mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia ucapkan. Seorang tokoh yang sedang viral dengan paradoks dibuatkan karikatur yang tidak pantas. Lalu dishare kemana-mana.