Teknologinya sendiri bukanlah masalah. Justru AI dapat digunakan untuk pendidikan, penelitian, bisnis, kreativitas, dan banyak kemanfaatan lainnya.
Yang menjadi persoalan adalah ketika teknologi digunakan untuk membuat dan menyebarkan gibah dan fitnah.
Dulu menjaga lisan berarti menjaga apa yang keluar dari mulut. Sekarang kita juga harus menjaga apa yang keluar dari jari. Berarti Jari pun harus dijahit.
Jari kita telah menjadi semacam mulut kedua.
Tulisan yang kita kirim dapat di-screenshot, disalin, diteruskan, dan disebarkan tanpa kendali. Satu kalimat mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk dibuat, tetapi dampaknya bisa bertahun-tahun.
Karena itu, sebelum menekan tombol share, berhentilah sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah ini sudah benar?Dari mana sumbernya? Sudahkah saya melakukan tabayyun?Apa akibatnya jika informasi ini ternyata salah?
Tidak semua yang viral harus dipercaya. Tidak semua yang kita dengar harus diceritakan. Tidak semua yang kita lihat harus disebarkan. Apalagi di zaman AI, tidak semua yang tampak nyata benar-benar pernah terjadi.
Kadang-kadang, diam juga adalah bentuk tanggung jawab.
Menjahit mulut sendiri bukan berarti kehilangan suara. Menjahit mulut berarti memberikan batas agar suara kita tidak berubah menjadi dosa.
Dan pada zaman ketika satu jempol dapat menyebarkan informasi kepada jutaan manusia, menjaga lisan dan jari bukan lagi sekadar akhlak pribadi.
Ia adalah tanggung jawab sosial.
Maka sebelum berbicara, berpikirlah. Sebelum menulis, periksalah. Sebelum membagikan, tabayyunlah.
Sebab satu klik yang kita anggap kecil bisa menjadi awal dari kebaikan, tetapi bisa pula menjadi mata rantai gibah, fitnah, hoaks, dan keresahan masyarakat.
Barangkali, sebelum jari menekan tombol share, itulah saat yang paling tepat untuk menjahit mulut sendiri.
Wallahu a’lam bisshowab












