Dari situ kami berpisah. Saya melanjutkan langkah ke Cafe Denbo Toddopuli, milik Prof. Dr. Muh. Asdar. Sore itu, tempat tersebut menjadi ruang belajar kelas Public Speaking yang diadakan oleh DPN PENBIS, menghadirkan coach nasional, Anas In Action. Ruangan terasa hidup, bukan hanya oleh suara materi, tapi oleh energi orang-orang yang datang dengan niat belajar.
“Berbicara bukan soal lantang atau tidak, tetapi soal kejujuran yang berani disampaikan.” ~ Anas In Action
Di tengah kelas yang sedang berlangsung, suara azan dari masjid terdengar jelas. Seolah menjadi pengingat lembut bahwa di antara semua upaya meningkatkan kapasitas diri, ada kewajiban yang tidak boleh ditunda. Saya mengangkat tangan kanan, memberi isyarat izin, lalu keluar ruangan untuk menunaikan sholat Ashar.
“Ilmu yang berkah tak pernah bertabrakan dengan ibadah.” ~ Imam Al-Ghazali
Usai sholat, saya tidak langsung kembali masuk. Saya duduk sejenak di depan pintu ruang pelatihan, menikmati jeda. Tidak lama, Bu Heny Ketua DPN PENBIS keluar menyusul. Disusul Pak Mul dan Bu Wanti. Tidak berselang lama, Prof. Asdar muncul dari lantai satu. Kami duduk bersama, berbincang ringan. Tepat di depan kami, ada meja kecil dengan lima piring es pisang ijo dan beberapa gelas air.
“Tidak ada yang punya ini? Boleh dicoba?” tanya saya, setengah bercanda.
“Silakan, tidak ada yang punya, itu pisang ijo dari Roti Daeng,” jawab Bu Heny.
Kami pun makan ramai-ramai.
“Enak juga ini pisangnya,” kata Prof. Asdar.
“Iya, enak Prof,” sahut saya.
“Kebersamaan sering kali terasa paling hangat justru di sela-sela kegiatan resmi.”
Obrolan mengalir ringan, sampai tiba-tiba duk! pintu ruang pelatihan terbuka. Saya mengira ada peserta yang keluar. Ternyata Coach Anas. MIC di tangan kirinya, sementara tangan kanannya mendarat di pinggang saya, menarik saya masuk ke dalam ruangan. Tanpa banyak kata.
Sesampainya di dalam, MIC berpindah ke tangan kanannya dan langsung diserahkan ke saya.
“Silakan Bang Maman, beri contoh public speaking. Sampaikan motivasi,” katanya.
“Kesempatan sering datang tanpa aba-aba, dan keberanian adalah jawaban terbaik.” ~ Nelson Mandela
Tanpa banyak berpikir, saya mulai dengan salam, lalu kata-kata itu mengalir begitu saja :
“Tidak ada orang yang tidak punya kemampuan di dunia ini. Yang ada, kita belum memberi dia kesempatan.”
Saya lanjutkan,
“Sukses itu adalah bertemunya kehendak Allah yang sudah tertulis di Lauhil Mahfudz dengan ikhtiar dan usaha yang kita lakukan. Maka jangan pernah takut untuk berikhtiar.”
Dua kalimat itu keluar spontan. Bukan karena hafalan, tapi karena keyakinan.
“Apa yang keluar dari hati, akan sampai ke hati.” ~ Ali bin Abi Thalib
Saya sempat berkata,
“Sudah ya, cukup.”
Tapi Coach Anas tersenyum, “Tambahkan lagi. Lima kata motivasi, tapi yang panjang.”
“Tambah… tambah… tambah!” seru peserta.
Saya pun melanjutkan sesuai permintaan. Setelah itu, saya kembali duduk. MIC digilir dari depan. Saat itulah saya sadar ini sesi praktik. Dan saya tadi dijadikan tumbal pembuka, contoh pertama sebelum peserta lain menyusul.
“Kadang kita diminta maju lebih dulu, bukan karena paling siap, tapi karena dipercaya.”
Kelas berlanjut hingga Magrib. Kami sholat berjamaah, foto bersama, lalu peserta satu per satu berpamitan pulang.
Saya masih duduk bersama beberapa pengurus PENBIS, berbincang santai dengan Coach Anas yang datang jauh dari Surabaya. Tidak lagi sebagai pelatih dan peserta tapi sebagai kawan berbagi cerita.
Malam itu dari Cafe Denbo ditutup di warung sate Madura, di sudut lampu merah pertemuan Jalan Pettarani dan Hertasning. Duduk memanjang mengikuti bentuk meja, obrolan ringan, tawa yang jujur, tanpa topik berat. Cerita mengalir seperti asap sate yang perlahan naik ke udara.












