Ekspedisi K-Apel di Pangkep “Mengandung Bawang” (2)

Catatan Perjalanan Arwan D. Awing 

OTW Pangkep

NusantaraInsight, Pangkep — Kerlingan mata Bang Maman di balik kacamata tebalnya ditambah senyuman tipis ala Ambon Manise mengisyaratkan agar kami segera bergegas menuju tujuan utama yaitu menyampaikan amanah para pengejar surga ke SDN 61 Terapung Pangkep.

“Ayo mi deh, om,” begitu gerak bibir dari Maman sembari menunjukkan jam.

Saya memantau situasi dan kondisi dan mencari celah yang tepat untuk memotong pembicaraan yang tengah berlangsung di warung kuliner khas Makassar itu.

Tapi sepertinya Prof Asdar, mahfum hal itu, karena jam terbang beliau yang tinggi, juga self-sensitivity-nya yang di atas rata-rata, kemudian beliau mengajak kami untuk beranjak menuju tujuan utama kami di Pangkep.

Pasukan dibagi dua, Rusdi Embas dan Ibu Wanti berpindah ke armada milik Prof Asdar, sedangkan ibu Heny tetap teguh di mobilnya.

Agar ibu Kepsek tidak gelisah menunggu, saya menge-chat beliau bahwa armada telah bergerak menuju lokasi. Saya kemudian mulai memeriksa google map yang ternyata telah lama dikirimkan ke gadget ku.

BACA JUGA:  Dari Putu Mayang, K-apel Buat Festival Kuliner Tradisional

Memasuki perbatasan kabupaten Pangkep – Maros, saya mulai membuka map ke lokasi. Takutnya bukan karena “alamat palsu” namun terkadang alamat yang terkirim melalui google map “ngambek” dan kita menuju ke alamat palsu.

Tentu kita tak ingin mendengar nyanyian ibu Heny yang sedari tadi penasaran bersenandung “di mana…. di mana… di mana ?? Tentu tak menarik juga seperti Ayu Tinting.

Setelah memastikan google map baik-baik saja, saya menyampaikan ke sang pilot, “insyaallah, 3 km lagi,” sewaktu melintasi batas kabupaten.

“Sebentar kita putar balik (jalan 2 arah) lalu belok kiri,” ujarku meyakinkan bak navigator.

Setelah kami berbelok dan memasuki jalan Minasatene. Saya meminta agar kendaraan agar tidak laju, karena dari map menunjukkan kita akan berbelok ke kanan memasuki jalan kampung.

“Ini.. Bar (Akbar), kita belok kanan di jalan kecil,” ucapku mengarahkan.

Dua armada yang kebetulan berwarna putih senada kemudian memasuki jalan kampung yang sempit. Syukurnya, jalan yang dilalui cukup baik, sehingga kami menempuhnya cukup cepat.

BACA JUGA:  PEMBANTAIAN DI FINAL LIGA CHAMPION EROPA 2025 DAN FILOSOFI BARU SEPAKBOLA

Setelah melewati jalan kampung, kami mulai memasuki daerah persawahan dan juga empang. Di depan kami ada terowongan yang di atasnya merupakan perlintasan kereta api.

“Masya Allah, Tabarakallah, kerennya pemandangan,” ucap kami berbarengan melihat hamparan sawah yang baru ditanami dan juga empang yang airnya memantulkan cahaya beskara yang kekuningan. Di balik hamparan sawah dan empang berdiri dengan kokoh barisan bukit-bukit Karts yang seperti bidak-bidak catur yang sengaja diletakkan.

“Ku ingat waktu ku kecil di kampung ini, saya pergi mi tanam padi sama bapakku kodong,” ucap ibu Heny yang mulutnya tak berhenti mengucap syukur kepada sang pencipta karena keindahan yang terlihat.

Jalan yang dilalui merupakan pematang sawah yang sengaja dilebarkan hingga 3 meteran, sehingga satu unit mobil dapat melaluinya.

Sesekali juga terlihat ada rumah penduduk yang kami lewati bahkan ada juga rumah penduduk yang membangun rumah permanen bahkan terbilang mewah di tengah hamparan itu.

Saya berfokus pada google map yang jadi panduan, namun di layar gadget, ujung panduan terlihat sepertinya jalan terpotong yang membuat saya ragu akan jadi “salah alamat”.

BACA JUGA:  Abang Saya Mau Berhenti Kuliah Saja, Kenapa ?

“Bar.. singgah dulu di depan, saya bertanya dulu. Gappaka salah jalan Ki bela,” pintaku kepada Akbar yang langsung menghentikan kendaraannya di depan sebuah rumah yang kebetulan ada tiga orang bapak yang sepertinya lagi mengaso setelah bekerja.

“Tabe, Pak, di mana itu SD Terapung ?,” tanyaku
“Iye, terus maki saja, di sana itu ada pembelokan kiri, masuk maki di situ,” jawab salah seorang bapak sembari berdiri menunjukkan arah menuju SD Terapung.