5 Agenda di Penghujung 2025 (31), Ajakan Om Awing

“Eh, tanya dulu Om Awing sudah pesan apa belum. Siapa tahu sudah pesan,” kata saya ke Pak Ardhy.

“Oh iya, tanya mi dulu Awing,” jawabnya sambil mengangguk.

Saya melangkah ke belakang. Di sana Om Awing sudah duduk santai di sebuah skat meja lesehan, tepat di tepi Danau Maccini Sombala. Duduknya tenang, seperti orang yang tidak sedang terburu-buru mengejar apa pun.

“Sudah pesan, Om?” tanya saya.
“Iya, sudah. Pesan maki’ sama Pak Ardhy,” jawabnya singkat, tapi jelas.

“Ada orang yang datang lebih awal bukan karena ingin didahulukan, tapi karena sudah terbiasa menghargai waktu.”

Saya kembali ke depan menemui Pak Ardhy yang masih berdiri dekat box ikan.

“Sudah mi pesan Om,” kata saya.

Barulah kami memilih ikan masing-masing. Saya memilih kakap ukuran sedang, sekitar 30 sentimeter.

“Pak, ikan kakap dibakar, di-mix saja parape sama rica-rica,” pinta saya. Pak Ardhy memilih gurame dibakar parappe.

Saya sempat bertanya ke pelayan, “Yang duduk di meja lesan paling ujung tadi pesan apa?”

BACA JUGA:  Mengenang Sarjan, Jakarta-Lombok Mudik Jalan Kaki

“Temanta pesan ikan cepak, dimasak dan dibakar,” jawabnya.

Kami kembali ke belakang, bergabung dengan Om Awing. Menunggu pesanan datang, obrolan pun mengalir ringan tentang media, tentang Komunitas Anak Pelangi (K-apel), tentang hal-hal kecil yang kalau dipikir-pikir justru besar dampaknya. Tangan kami sesekali memetik daun kemangi yang tersaji di piring kosong. Ada kenikmatan sederhana di situ yaitu menunggu sambil berbagi cerita.

“Menunggu jadi terasa singkat ketika dilakukan bersama.”

Tidak lama, seorang pelayan perempuan datang membawa nampan berisi tiga piring kecil sambal dan tempat cuci tangan. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan nasi bakul dan semangkuk besar ikan masak pesanan Om Awing. Disusul lagi oleh pelayan lain yang membawa ikan bakar terbelah, menganga, harum asapnya langsung menyapa. Semua tersaji lengkap yakni racca mangga, lawi-lawi, daun kemangi, dan tomat.

Sebelum mulai makan, saya refleks berkata, “Mba, minta tolong foto dulu.”
HP saya serahkan. Krak… krak… krak… bunyi kamera HP saya

“Tunggu dulu, saya stel kameranya biar bagus hasilnya,” kata si pelayan dengan serius.

BACA JUGA:  Pemilu 1999, Pembicara tentang Media untuk Caleg Partai Baru

“Pelayanan yang tulus selalu terlihat dari kesediaan memberi lebih, meski tak diminta.”

Hasil fotonya bagus. Saya tersenyum.
“Bagus ini pelayan. Sombere, betul-betul melayani. Tidak seperti pelayan pada umumnya,” kata saya.

“Iya, bagus tadi itu, berkumis lagi,” sambut Om Awing bercanda.

Saya menimpali pelan, “Kalau saya datang ke rumah makan atau kafe, bukan harganya yang saya lihat, tapi pelayanannya.’

“Rasa dihargai sering kali lebih mengenyangkan daripada makanan itu sendiri.”

Usai makan, kami masih duduk bercerita sejenak. Rumah makan siang itu ramai luar biasa, pengunjung silih berganti, bahkan sampai antre tempat duduk. Tidak seperti biasanya mungkin karena sudah mendekati akhir tahun.

Setelah itu kami beranjak ke Masjid Cheng Ho untuk shalat Dzuhur berjamaah. Masjid sudah relatif sepi; waktu Dzuhur lewat sekitar setengah jam. Tinggal satu-dua orang yang masih berdiam, melanjutkan istirahat setelah shalat.

“Kesunyian rumah ibadah sering kali lebih jujur daripada keramaiannya.”

Dari masjid, kami lanjut nongkrong sekitar satu jam di depan Kantor Camat Tamalate. Minum kelapa muda gula merah kata orang sih, ini kelapa mudanya enak, recommended. Kami duduk santai, meneguk perlahan, sesekali tertawa kecil. Tidak ada topik berat. Hanya obrolan ringan yang tidak perlu dicatat, tapi terasa cukup untuk disimpan di ingatan.

BACA JUGA:  Catatan Reflektif HPN 2026, Menguatkan Peran Pers Lokal di Era Disrupsi Digital

“Kadang yang paling kita butuhkan bukan tempat mewah, tapi waktu yang berjalan tanpa tergesa.”