Makassar, NusantaraInsight — Dalam Rangka HUT Kemerdekaan Indonesia serta Memperingati 124 Tahun Bung Hatta. Program rutin bulanan “Membaca kembali Bung Hatta” Seri ke-21 dengan topik: “Indonesia Merdeka: Perspektif Sang Proklamator”, yang digelar oleh Ma’REFAT INSTITUTE, terasa lebih istimewa kali ini. Jika sebelumnya kegiatan ini dilakukan atas kerja sama dengan Forum Alumni Sekolah Pemikiran Bung Hatta (FA-SPBH) dan Book Club Alumni SPBH-1, maka di kesempatan ini kolaborasi diperluas bersama beberapa komunitas, yakni: Rumah Baca Philosophia Kabupaten Takalar, Media Komunitas annisa co, serta Kooperasi Indonesia Daulat Rakyat Sulawesi Selatan (KIDARA SULSEL).
Kegiatan rutin bulanan ini berlangsung pada Minggu, 16 Agustus 2026 lalu, menghadirkan tiga pemantik sekaligus pembaca buku, yaitu: Ririn Dyah Rahayu Biringkanae, SP., MP, yang merupakan Peneliti Pertanian Ramah Iklim dan Penulis Media Komunitas annisa.co, Faradillah Hamzah, SE, Pegiat Rumah Baca Philosophia, serta Muhammad Satriawan Hamsari, SP, sebagai Peminat Pemikiran Bung Hatta dan Pengurus Kooperasi Indonesia Daulat Rakyat (KIDARA) Sulawesi Selatan.
Perhelatan dimulai pada pukul 13.30 Wita. Moderator terlebih dahulu memberi kesempatan kepada Mohammad Muttaqin Azikin selaku Direktur Eksekutif Ma’REFAT INSTITUTE Sulawesi Selatan sekaligus Alumni Sekolah Pemikiran Bung Hatta (SPBH) Angkatan 1, untuk mengawali acara ini dengan Narasi Pembukanya.
Diskusi seri ke-21 hari ini, adalah diskusi yang sedikit lebih spesial, karena berkaitan dengan peringatan Proklamasi Kemerdekaan kita, sekaligus juga bagian dari rangkaian memperingati 124 Tahun Bung Hatta. Bung Hatta merupakan tokoh bangsa Indonesia yang memiliki peran penting dan krusial dalam perjalanan Bangsa Indonesia, selain itu juga punya karya literasi paling banyak di negeri ini, khususnya di antara tokoh Bangsa dan penguasa/pejabat pemerintahan lainnya. Ironisnya, warisan serta jejak Bung Hatta tersebut tidak banyak yang mengetahui, bahkan terkesan ada indikasi upaya “penghilangan” jejak dan perannya dalam sejarah Indonesia, padahal beliau adalah salah satu Proklamator Bangsa.
Prof. Buya Hamka pernah mengingatkan: “Bung Hatta tidak berhutang budi kepada bangsanya, tapi seluruh Bangsa Indonesia berhutang pada Bung Hatta. Hutang Budi yang tidak dapat dibayar, hutang yang akan dibawa mati, yaitu jasa dan perjuangan Bung Hatta untuk Indonesia Merdeka.”
Demikian ucap Muttaqin Azikin menutup narasinya.
Selanjutnya, Ririn Dyah Rahayu sebagai pemantik pertama bercerita, bahwa dirinya adalah orang yang mengetahui Bung Hatta itu, hanya sekadar pendamping dari Bung Karno. Jadi selama saya hidup di bangku sekolah sampai bangku kuliah, sampai sebelum saya membaca buku ini, saya hanya menganggap, Bung Hatta itu Bapak Koperasi, ucapnya.












