Spiritualitas dan Kearifan Lokal: Akar Solusi Krisis Ekologis

Lokal

Makassar, NusantaraInsight  –  Ma’REFAT INSTITUTE kembali menggelar forum diskusi rutin Ma’REFAT Informal Meeting (REFORMING) ke-34 di Kantor LINGKAR-Ma’REFAT, Minggu 28 Juni 2026. Mengusung tema “Membincang Peran Spiritual Agama-Agama dan Kearifan Lokal dalam Mengatasi Degradasi Lingkungan”, pertemuan ini berupaya menggali akar mendalam dari persoalan lingkungan yang selama ini sering hanya dibahas dari sisi teknis semata.

Diskusi yang dipandu oleh Arifin selaku moderator menghadirkan dua pemantik utama: Prof. Drs. Wahyuddin Halim, M.A., M.A., Ph.D. (Guru Besar Antropologi Agama UIN Alauddin Makassar) dan Ir. Mohammad Muttaqin Azikin, S.T., IPM (Peneliti dan Pemerhati Tata Ruang serta Lingkungan Hidup Ma’REFAT INSTITUTE Sulawesi Selatan). Hadir pula peserta beragam latar belakang aparatur sipil negara, aktivis lingkungan, akademisi, mahasiswa, hingga pelaku UMKM menandakan kepedulian luas terhadap isu ini.

Dalam pemaparannya, Mohammad Muttaqin Azikin menegaskan perlunya menggeser paradigma pandang terhadap lingkungan. Selama ini, pembahasan kerusakan lingkungan terlalu terjebak pada aspek teknis: pencemaran, limbah, baku mutu, dan dokumen perencanaan seperti RTRW atau AMDAL. Padahal, yang jarang ditanyakan adalah mengapa manusia justru merusak alam yang menjadi tempat hidupnya.

BACA JUGA:  Talkshow Etika AI, Prof. JJ: Perlu Keseimbangan Teknologi dan Kesadaran Etis

Bagi Muttaqin, jawabannya bersifat spiritual dan mendasar. Ia merujuk pada Surah Ar-Rum ayat 41 yang menyatakan kerusakan di darat dan laut adalah akibat perbuatan tangan manusia. Hal ini bukan sekadar tindakan fisik, melainkan kegagalan manusia menjalankan peran sebagai khalifah penjaga dan pemelihara keseimbangan ciptaan Tuhan. Seperti pandangan pemikir Seyyed Hossein Nasr, krisis lingkungan sejatinya berakar dari krisis spiritual dan eksistensial manusia yang lupa akan tanggung jawabnya terhadap alam.

Sementara itu, Prof. Wahyuddin Halim menekankan pentingnya membedakan antara istilah “lingkungan” dan “ekologi”. Jika lingkungan merujuk pada kondisi fisik di sekitar manusia, ekologi berbicara tentang hubungan harmonis antar seluruh makhluk hidup. Oleh karena itu, krisis yang dihadapi saat ini bukan sekadar kerusakan fisik, melainkan rusaknya jaringan relasi kehidupan yang menopang keberadaan bumi.

Prof. Wahyu juga mengingatkan ketidakadilan ekologis yang terjadi: sebagian besar kerusakan justru menimpa negara berkembang, sementara sumber daya alamnya dieksploitasi untuk memuaskan konsumsi negara maju. Sejalan dengan pandangan pemikir Lynn White Jr., ia menegaskan bahwa akar krisis ekologis bukanlah teknologi, melainkan cara pandang manusia terhadap dirinya sendiri dan alam yang berakar pada nilai spiritual, filosofis, dan agama.