Hatta dan “Indonesia Merdeka”

Hatta dan “Indonesia Merdeka"

Bung Hatta menjelaskan ada faktor-faktor secara psikologis dan politik tentang arah pergerakan Perhimpunan Indonesia (PI). Saya mencatat beberapa poin penting. Yang pertama, Bung Hatta menyampaikan bahwa kegiatan Perhimpunan Indonesia itu, tidak serta-merta terjadi begitu saja. Kedua, Bung Hatta juga membahas tentang sejarah dan perkembangan pergerakan Indonesia hingga dituduh sebagai makar oleh pemerintahan atau kerajaan Belanda. Ketiga, PI itu adalah Perhimpunan Indonesia yang sebenarnya pada awalnya di 1908 lahir sebagai organisasi perkawanan/persaudaraan atau organisasi sesama perantauan di Belanda. Karena, pada saat itu Bung Hatta adalah seorang mahasiswa. Namun – sekitar 1908 hingga 1913 periode pertama itu – ada juga gejolak serta kejadian-kejadian di Asia Timur. Jadi memang pada saat itu bukan cuma Indonesia saja yang ingin merdeka, ada negara-negara lainnya. Nah, hal tersebut tentu ikut membangkitkan patriotisme Perhimpunan Indonesia. Kemudian lahirlah gagasan Indonesia Raya, sambung Faradillah.

Satriawan melanjutkan diskusi bahwa Perhimpunan Indonesia menegaskan persatuan lintas kelompok etnis, agama, dan kelas, bukan sekadar retorika—melainkan prasyarat mutlak perebutan kekuasaan dari tangan kolonial. Tanpa konsolidasi massa yang nyata, perlawanan hanya akan terfragmentasi dan mudah dipatahkan, ucapnya.

BACA JUGA:  Peternak Binaan Rumah Zakat Raih Juara dalam Kontes Kambing.

Yang menarik, Hatta justru membalik logika pengadilan: bukan Indonesia yang menentukan apakah kemerdekaan akan lahir dengan darah atau damai, melainkan pihak yang sedang memegang kekuasaan. Ia bahkan memperingatkan bahwa kekuasaan kolonial Belanda pasti berakhir; persoalannya hanya soal waktu cepat atau lambat. Sarkasnya tajam: penjajah begitu yakin kekuasaannya abadi, sampai sejarah harus mengingatkan bahwa “akhir zaman” bukan milik kolonialisme, tutup Satriawan.

Seperti biasa diskusi ini dihadiri oleh peserta dari beragam kelompok, dari Aparatur Sipil Negara, Aktivis Lingkungan, Akademisi, Mahasiswa dan pelaku usaha UMKM (why).