Oleh: Anwar Nasyaruddin (Apresiator Sastra)
Gowa, NusantaraInsight — Dialog Sastra dalam Festival Sastra Kepulauan ke-IX di Benteng Somba Opu, Makassar, pada 19 September 2026, telah selesai, namun menyisakan satu pertanyaan sederhana, tetapi mendasar, yaitu bagaimana merawat tradisi puitik dalam keberagaman kampung? Pertanyaan ini menarik ketika dihubungkan dengan sastra kepulauan. Sebab, sastra kepulauan tidak cukup hanya dipahami sebagai sastra yang lahir dari daerah yang banyak memiliki pulau, atau sastra yang menjadikan laut sebagai latar cerita.
Dalam dialog sastra yang dipandu Is Hakim, seorang seniman perupa ini, mempersilahkan pembicara pertama, Mahrus Andis menyampaikan gagasannya tentang bagaimana merawat tradisi puitik. Dan kritikus Sastra ini memberikan pintu masuk yang penting. Dalam pandangannya, tradisi puitik bukan sekadar kebiasaan menggunakan bahasa yang indah. Di dalamnya terdapat pengalaman, pengetahuan, dan nilai kehidupan yang diwariskan melalui bahasa. Elong, werekada, cerita rakyat, mantra, petuah, nyanyian, dan berbagai bentuk sastra lisan lahir dari kehidupan nyata masyarakat. Ketika tradisi puitik mulai ditinggalkan, yang hilang bukan hanya bentuk keseniannya, tetapi juga sebagian cara masyarakat mengenali dirinya sendiri.
Nah, di sinilah perlu ada sikap. Merawat tradisi puitik tidak berarti mengulang bentuk lama secara terus-menerus. Tradisi puitik yang hanya diulang tanpa diberi kemungkinan untuk berubah justru dapat menjadi museum. Tradisi puitik ini harus diberi kesempatan berhadapan dengan zaman. Elong dan werekada, misalnya, tidak harus ditempatkan berlawanan dengan puisi modern. Keduanya dapat dibaca sebagai sumber estetika, cara berpikir, dan kekayaan pengalaman yang dapat memberi energi kepada sastra masa kini, karena tradisi puitik adalah akar yang memungkinkan modernitas memiliki identitas.
Sedangkan pembicara kedua Bambang Widiatmoko (Penyair dan Magister Komunikasi, Jakarta) menilai laut sebagai sesuatu yang penting. Pandangannya, laut dalam sastra sering kali hadir sebagai sesuatu yang ambigu, artinya laut dapat menyatukan sekaligus memisahkan. Bagi masyarakat kepulauan, ambiguitas ini bukan hanya simbol puitik, juga merupakan pengalaman hidup. Laut dapat membawa nelayan pulang, bisa pula laut membuat sebuah pulau terasa jauh dari pulau lainnya.
Untuk itu, sastra kepulauan seharusnya tidak berhenti pada penggunaan kata ‘ laut ‘ dalam puisi maupun prosa. Laut sebagai cara pandang jauh lebih penting daripada laut sebagai dekorasi. Sebuah karya yang menyebut ombak, perahu, angin, pantai, atau matahari terbenam belum tentu menjadi sastra kepulauan. Sebaliknya, sebuah karya yang tidak menyebut laut sama sekali dapat memiliki watak kepulauan apabila cara berpikirnya lahir dari pengalaman hidup masyarakat pulau, seperti tentang jarak, perjalanan, perjumpaan, keterpisahan, perdagangan, migrasi, dan hubungan antarkelompok manusia.












