Sedangkan, pemikiran Dr. Mu’jizah, M. Hum., tentang merawat tradisi puitik diawali pergeseran dari sastra pesisir ke sastra kepulauan. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional ini, menilai Sastra pesisir cenderung melihat manusia dari wilayah tepian laut, sedangkan sastra kepulauan membawa manusia cenderung kepada jaringan hubungan antarpulau. Dalam pandangan kepulauan, sebuah pulau tidak pernah benar-benar berdiri sendiri, selalu terhubung dengan pulau lain melalui pelayaran, bandar, perdagangan, migrasi, bahasa, perkawinan, dan pertukaran kebudayaan. Dengan demikian, laut bukan pembatas antara satu pulau ke pulau lain, justru laut menjadi ruang penghubung.
Untuk lebih mengenal pemahaman seperti itu, perlu membuka kembali pentingnya membaca karya-karya klasik, termasuk I La Galigo. Bukan hanya sebagai warisan sastra Bugis, tetapi sebagai bagian dari imajinasi kepulauan. Di dalamnya terdapat perjalanan, perpindahan, hubungan antarkerajaan, dan dunia yang bergerak melampaui batas sebuah wilayah. Sejarah Nusantara sendiri memperlihatkan betapa kebudayaan tidak pernah benar-benar terkurung oleh batas administratif yang dikenal sekarang, manusia bergerak jauh sebelum peta modern menentukan batas-batasnya.
Ketika tiba pada pembicara terakhir, ada gagasan Dr. Aslam Abidin, membawa persoalan merawat tradisi puitik ke wilayah yang lebih kontemporer, dunia digital. Hari ini seorang anak muda dapat hidup di sebuah kampung kepulauan, tetapi pikirannya setiap hari berkelana melalui layar telepon. Ia mengenal dunia melalui TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai media digital lainnya. Bahasa kampung bertemu dengan bahasa internet. Idiom lokal bertemu dengan istilah global. Folklor bertemu dengan budaya populer. Maka, menurut akademisi UNM ini, tradisi puitik menghadapi tantangan baru, bukan hanya bagaimana mempertahankan tradisi, tetapi bagaimana tradisi dapat bernegosiasi dengan kebudayaan digital.
Olehnya, generasi Z tidak dapat dipaksa menjadi seperti generasi masa lalu. Mereka mempunyai pengalaman dan cara berbahasa sendiri. Karena itu, kesalahan terbesar dalam merawat tradisi puitik adalah menganggap generasi muda harus mencintai tradisi dengan cara yang sama seperti generasi sebelumnya. Yang perlu diwariskan bukan semata-mata bentuknya, melainkan nilai, sejarah, dan cara memandang kehidupan yang terkandung di dalamnya. Tradisi puitik harus diberi kemungkinan untuk berubah bahasa, berubah medium, bahkan berubah bentuk, selama hubungan dengan sumber budayanya tidak terputus.












