Di sinilah sastra kepulauan memiliki peluang untuk memberikan kritik terhadap cara pandang daratan yang selama ini cukup dominan. Cara pandang daratan sering melihat laut sebagai batas, pulau di sini dan pulau di sana. Pandangan kepulauan justru dapat melihat laut sebagai penghubung. Perubahan sudut pandang ini penting, jika daratan mengajarkan tentang menetap, dan laut mengajarkan tentang bergerak. Bila daratan menekankan batas, laut mengajarkan pertemuan, sastra kepulauan seharusnya mampu menangkap ketegangan antara kedua pengalaman tersebut.
Untuk itu, dalam diskusi Sastra ini, tema ‘merawat tradisi puitik dalam keberagaman kampung’ harus memperoleh makna yang lebih luas. Kampung tidak boleh dipandang hanya sekadar latar geografis, melainkan kampung harus menjadi sumber pengalaman, bahasa, identitas, dan sejarah, bahkan kampung juga terus berubah. Anak-anak kampung kini tumbuh dalam dua dunia sekaligus, dunia tempat mereka berpijak dan dunia maya tempat mereka berkelana. Demikian pula penulis masa kini berada di antara kedua dunia itu, mereka membawa tanah kampung ke dalam layar digital, sekaligus membawa dunia digital kembali ke kampungnya.
Diskusi Sastra tentang merawat tradisi puitik itu, menyisakan satu renungan. Setelah mengatakan ‘merawat tradisi puitik’, apa sesungguhnya yang dirawat? Apakah bentuk lama, bahasa lama, atau nilai yang hidup di dalamnya? Jawabannya mungkin bukan memilih salah satunya. Yang perlu dirawat adalah kesinambungan sejarah. Tradisi harus tetap mempunyai akar, dan sastra harus tetap mempunyai keberanian untuk tumbuh. Sebab akar yang tidak tumbuh akan menjadi fosil, sementara pertumbuhan tanpa akar akan kehilangan identitas. (Anwar Nasyaruddin).












