Di Balik Peluncuran Buku A. Amiruddin Nakhoda dari Timur (3) : Sangat Memperhatikan Stafnya.

Amiruddin
Peluncuran Buku A. Amiruddin Nakhoda dari Timur

NusantaraInsight, Makassar — Itu yang pertama ingin Pak Amiruddin kembangkan bagi setiap warga kampus. Dengan munculnya identitas itu, maka yang lain ikut berkembang pesat. Misalnya, kalau dikirim belajar ke luar negeri, maka siapa pun orangnya, seolah-olah mereka itu ‘malu pulang’ kalau tidak berhasil karena beridentitas Unhas.

Jadi, dapat dikatakan bahwa Pak Amiruddin sebagai rektor telah meletakkan landasan yang baik, yakni identitas sebagai ‘orang Unhas’.

Ketika itu, telah dicapai dua kemajuan besar. Pertama: adanya rasa memiliki Unhas. Kedua: tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, meskipun baru bisa dilaksanakan pada masa jadi rektor. Waktu itu, saya mewarisi staf yang demikian banyaknya dengan gelar akademik yang cukup tinggi. Lagipula telah dijejaki peluang untuk berdirinya pascasarjana. Kesemuanya merupakan bekal yang sangat baik bagi saya dalam melanjutkan pekerjaan Pak Amiruddin dan A.Hasan Walinono (mantan rektor setelah Amiruddin).

Bersamaan pula saat itu diarahkan Unhas untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya sebagai aset nasional. Dengan begitu, siapa pun yang memimpin Unhas tidak akan ada perubahan arah, meskipun mungkin strateginya berbeda-beda. Memang strategi itu terpulang pada gaya kepemimpinan masing-masing.

BACA JUGA:  Hadiri Upacara 17an, Ada Lagu Iwan Fals di Gubernuran Sulawesi Selatan

Tentang kekuatan Pak Amiruddin, ada satu yang pasti: kokoh pada pendirian. Buktinya, dapat dilihat ketika perubahan struktur organisasi dicanangkan, Fakultas Hukum tidak mau ikut. Namun, dia tetap pada pendirian.

“Kalau tidak mau ikut, silakan,” katanya.
Dia memang sudah menggambarkan apa yang bakal terjadi di kemudian hari kalau tidak ikut.

Artinya, kalau barangkali mesti ada kompromi, tidak ada jalan ke arah itu. Karena dia melihat, itu satu-satunya jalan terbaik. Karena sudah diputuskan Senat Universitas, maka mesti dijalankan. Memang kelihatan, setelah itu, ada setback sedikit pada Fakultas Hukum.

Jadi, dia sangat kokoh pada pendirian. Hal demikian itu, dapat menjadi suatu kekuatan di satu pihak dan dapat merupakan kelemahan pada sisi lain.

Membagi Rezeki

Kekuatan Pak Amiruddin yang lain adalah bahwa dia sangat memperhatikan stafnya. Kalau ada staf pergi belajar, segala macam upaya dilakukannya agar staf tersebut berhasil.

Menyangkut kesejahteraan staf, dia banyak memperhatikan. Contohnya, dibangunnya perumahan dosen di Kampus Baraya, Tamalanrea, dan Perumahan Pegawai Antang — Biring Romang.

BACA JUGA:  Video Profil Tradisi Pinisi: Dari Edukasi ke Promosi Budaya dan Pariwisata

Gagasan itu banyak yang ditentang orang. Dianggap tidak akan berhasil., Tetapi nyatanya konsep itu membawa Unhas memupuk satu modal, saat orang universitas dapat memiliki perumahan.

Padahal, pemerintah belum menciptakan hal demikian (saat itu belum ada Perumnas, KPR BTN, dan sejenisnya). Kini, masalah perumahan dosen dan karyawan Unhas sudah jadi ‘komoditas’ mewah dan langka (terbatas persediaannya).

Ada lagi satu pengalaman yang saya anggap tidak semua pimpinan sanggup berbuat demikian. Pak Amiruddin sebagai rektor menjadi ‘pengawas’ pada setiap proyek dan dapat honorarium, Meskipun kadang-kadang ada proyek-proyek ditangani Pembantu Rektor III atau Pembantu Rektor I, tetapi rektor biasanya selalu dapat honorarium.

Satu waktu, saya dilapori oleh salah seorang staf, saya yang ternyata cukup jeli melihat sesuatu. Dia mengatakan:” Pak, ini distribusi penghasilan kelihatan menumpuk pada orang-orang tertentu”.
Sebagai Pembantu Rektor II memerintahkan agar dibuat matriks. Dengan begitu, dapat dilihat nanti, siapa yang paling banyak dapat proyek. Setelah itu disusun, maka kelihatan rektor mendapat paling banyak.

BACA JUGA:  Tulisan "Jika Saya Wali Kota Makassar" Bisa Mewujud Nyata

Pembantu Rektor I juga dapat paling banyak. Pembantu Rektor II hampir tidak dapat. Kepala biro dan dekan tidak dapat banyak. Kepala Bagian Keuangan tidak kebagian. Ketidakseimbangan itu lantas saya perlihatkan padanya (rektor).