banner 728x90

PUISI ESAI MASIH PERLU WAKTU MENJADI ANGKATAN SASTRA BARU?

Anwar Nasyaruddin
Anwar Nasyaruddin

Oleh: Anwar Nasyaruddin

NusantaraInsight, Makassar — Sejarah mencatat, pemikiran baru, inovasi baru, penemuan baru biasanya tidak langsung bisa diterima oleh masyarakat. Kita tahu Galileo Galilei harus menerima hukumanan mati karena menemukan pemikiran baru bahwa bumi ini mengelilingi matahari. Agama Islam pertama kali turun di Arab dianggap sebagai pengetahuan sihir dari Nabi Muhammad. Kampus Tamalanrea Unhas ketika dibangun dan digagas A. Amiruddin mendapat banyak kritikan karena dianggap terlalu jauh dari kota. Demikian halnya puisi esai yang diperkenalkan oleh Denny J.A. telah memicu banyak diskusi mengenai tempatnya dalam sejarah dan perkembangan sastra Indonesia.

Dan memang hal hal baru selalu mendapatkan tantangan dan penolakan dari mereka yang sudah terpatri pemikiran konservatif mereka (dianggap konservatif karena berbeda dengan pemikiran modern dan up to date). Lantas, apakah pemikiran konservatif memang yang benar dan tetap bertahan atau ikut berubah, atau generasi Z dan Generasi Alpha saja nantinya yang akan menerima puisi esai sebagai angkatan baru dalam sejarah sastra Indonesia? Maka waktulah yang akan menjawab.

BACA JUGA:  Rosita Desriani: Apresiasi dan Lomba Baca Puisi Kian Marak

Nah, untuk menilai apakah puisi esai bisa dianggap sebagai satu angkatan sastra baru dalam dunia perpuisian Indonesia, atau hanya sebuah genre baru, maka marilah kita perlu melihat beberapa hal sebagai pertimbangan.

Kita tahu puisi esai dengan bentuk inovasi baru, fokus pada tema yang relevan, pengaruh yang meluas, serta diskusi kritis yang aktif menunjukkan adanya tanda-tanda bahwa puisi esai sedang menuju ke arah angkatan baru. Keberhasilan itu akan sangat bergantung pada seberapa luas dan dalam genre ini diadopsi dan dikembangkan oleh penulis dan diakui oleh komunitas sastra yang lebih luas.

Kita tahu puisi esai mempunyai keunikan dan inovasi. Puisi esai lahir menggabungkan unsur-unsur puisi dengan narasi esai, sehingga menciptakan bentuk yang berbeda dari puisi tradisional. Inovasi ini menciptakan cara baru dalam menyampaikan pesan, yang bisa dianggap sebagai pembaruan dalam dunia sastra. Keunikan format ini adalah salah satu faktor yang mendukung ide bahwa puisi esai bisa membentuk sebuah angkatan baru.

Yang menarik pula, puisi esai sering mengangkat isu-isu sosial, politik, dan kemanusiaan yang relevan dengan kondisi kontemporer Indonesia. Dengan demikian, puisi esai bisa dilihat sebagai respons sastra terhadap perkembangan sosial dan politik yang terjadi saat ini. Fokus tematik yang khas ini bisa menjadi dasar pengelompokan puisi esai sebagai angkatan tersendiri.

Iklan Amri Arsyid