Senandung Sunyi dari Makassar: Puisi Hilang yang Bangkit Kembali, Menyulam Rindu 1986-2008

NusantaraInsight, Makassar — Seperti arsip kumal yang tiba-tiba bernyawa, Senandung Sunyi (Sajak-sajak dari Makassar) karya M. Amir Jaya bangkit dari debu waktu di meja diskursus Kafebaca Jalan Adhyaksa nomor 2, Sabtu (2/5/2026).

Kumpulan 116 puisi setebal 119 halaman ini, lahir dari coretan tangan era 1986-2008, pernah beredar terbatas sebagai Senandung Sunyi Makassar, Senandung Anyir Jakarta (2000), kini berevolusi dengan wajah baru dari Bambu Press dan dipicu puisi sederhana “Makassar, Aku Ingin Menyulammu” yang menggugah naluri penulis.

“Alhamdulillah, puisi-puisi ini bisa terbit kembali dengan wajah yang berbeda. Sesungguhnya, kumpulan puisi ini pernah terbit secara terbatas dengan judul “Senandung Sunyi Makassar Senandung Anyir Jakarta” (2000) oleh Penerbit Pustaka Cipta Mandiri (tanpa ISBN),” tulisnya.

Ia melanjutkan bahwa, semua buku yang dicetak terbatas itu dibagi-bagikan kepada sejumlah sahabat terdekat, sejumlah pejabat dan politisi. Ada juga yang dibeli oleh orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap karya sastra, khususnya puisi, namun itu tidak banyak. Lebih banyak yang diberi secara gratis.Karena tidak lagi memiliki arsip yang cukup (hari ini tinggal 1 buku), maka saya berinisiatif kembali untuk menerbitkannya dengan judul baru “Makassar, Aku Ingin Menyulammu” dengan sub judul “Puisi-Puisi dari Maccini”. Perubahan judul ini semata-mata untuk sebuah perubahan itu sendiri. Puisi sederhana Makassar Aku Ingin Menyulammu, tiba-tiba menggugah naluri kesadaran saya saat membaca ulang puisi tersebut.

BACA JUGA:  Dunia Anak, Teater, dan Kerja Kultural Seorang Bahar Merdu

“Karena itu, saya mencopotnya untuk menjadi judul buku ini. Anak saya, Inayah Nur Ramadhani Amir, pun kembali mengetik ulang sejumlah puisi-puisi tersebut. Karena file naskah puisi ini tidak lagi ditemukan. Apalagi sebagian besar naskah puisi ini ditulis tangan dan diketik ulang dengan menggunakan mesin ketik jadul,” terangnya.

Puisi-puisi yang terangkum dalam buku ini ditulis dalam rentang waktu yang cukup panjang antara 1986–2008. Itu pun puisi yang masih sempat ditemukan dalam arsip yang sudah kumal. Kebiasaan saya, yang tidak pintar mendokumentasikan karya, menjadi penyebab hilangnya tulisan-tulisan puisi yang ditulis sejak saya masih duduk di bangku SMA,” lanjutnya.

“Alhamdulillah, puisi-puisi yang tersisa ini walaupun sangat seder-hana dan mungkin tidak memiliki kualitas, tapi puisi ini adalah bagian dari sebuah proses perjalanan panjang dalam hidup saya. Bahwa saya selalu berusaha memenuhi naluri kepenulisan saya dengan mencoret-coret puisi di mana pun saya berada. Karena itu, puisi-puisi ini lahir dari sebuah rasa setelah melihat, mendengar dan merasakan gumpalan-gumpalan persoalan yang hadir disekitar kehidupan saya. Dan saya mencoba merakitnya dengan sederhana dalam untaian puisi, yang juga sangat sederhana.Akhirnya saya berharap, puisi-puisi yang kini ada di tangan Anda, menjadi penyejuk hati saat membacanya,” pungkasnya.