Pertempuran hidup mati lalu berlangsung seru di mana-mana, meski hingga pada akhirnya Kesultanan Gowa terdesak hingga kian lemah dan memaksanya datang ke meja perundingan.
Babak ketiga menampilkan adegan Sultan Hasanuddin ( Ferdinan ) dengan sangat terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667, Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bongaya yang menjadi penanda mulai redupnya puncak kejayaan Kesultanan Makassar. Isi perjanjian tersebut di antaranya:
Makassar harus mengakui monopoli VOC
Wilayah Makassar dipersempit hingga tinggal Gowa saja
Makassar harus membayar ganti rugi atas peperangan
Gowa tertutup bagi orang asing selain VOC
Benteng-benteng yang ada harus dihancurkan kecuali Benteng Rotterdam
Sebagian besar petinggi Kesultanan Gowa secara terang-terangan menolak dengan tegas, bahkan mengajukan protes kepada Sultan.
Mereka merasa belum kalah dan mengaku tidak akan pernah kalah. Mereka tetap siap melanjutkan perang dengan pengorbanan jiwa dan raga sekali pun. Meski tetap akan patuh dan setia menunggu titah Sultan Hasanuddin.
“Sesungguhnya karena kesabaran, rakyatku bersedia memberikan apa yang mereka inginkan dalam Perjanjian Bongaya melalui Aku. Tapi mereka -kompeni ya menghendaki jantungku, hatiku, ini penghinaan atas martabat manusia,“ ujar lirih Sultan Hasanuddin dengan perasaan hati yang cedera.
Pada segmen akhir adegan, secara simbolik ditampilkan Sultan Hasanuddin yang hanya diam, tafakkur, berputar pelan di atas tahtanya.
Dalam konteks teatrikal, para aktor tak lagi berbicara dengan kata-kata, tak lagi gerah bergerak, menahan ekspresi amarah, hingga menjelang akhir babak. Pasukan dengan kegeraman yang simbolis, melampiaskan emosinya melalui tabuhan ganrang pakkanjara – Genderang penyemangat perang bagi orang Mangkasara.
Di mana sesungguhnya mereka sedang ikut menyembunyikan rahasia terdalam pada diri masing-masing, misteri yang tak sanggup mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Lalu meletup suara anggaru yang bergemuruh menggema dari dalam dada para tubaranina Gowa :
Tabe, Sombangku!
Inakke Ata … Karaeng
Kipammopporang mama’
Ridallekang labbiritta
Riempoang matinggita
Risa’ri karatuanta
Inakke minne Karaeng
Lambara tatassa’la’na -butta mangkasara
Inai- naimo sallang Karaeng,
Tamappattojengi Tojenga
Tamappiadaki Adaka
Kusalagai sirinna, kuisarak paranglakkengna
Sang Sultan, terus saja diam, berusaha moksa dari godaan perang, berhening. Itu sikapnya sebagai jawabannya yang paling fasih, lebih keras dan tegas dibanding meneriakkan kata-kata bersumbu amarah. Diamnya menjadi saat mengukur kekuatan spiritual yang besar dalam kesabaran, untuk menginterospeksi diri, mengendalikan nafsi, duniawi, merenung dan bertimbang, itulah senjata kekuatan pamungkas bagi pemimpin dengan kedewasaan berpikir. Sultan Hasanuddin menunjukkan kegetiran hati saat mempertimbangkan pentingnya bersikap bijak demi kepentingan kemanusiaan yang beradab.













