Adil Akbar: Sejarah sebagai Inspirasi Penulisan Cerpen

Sementara Muhajir MA, pegiat literasi dan jurnalis, menilai unsur sejarah dalam cerpen-cerpen Adil Akbar, merupakan kekuatannya.

Disampaikan, dalam menulis cerpen sebagaimana dilakukan Adil Akbar, mesti lebih sabar. Tidak perlu tergesa-gesa. Walau dipahami, kadang, batasan jumlah kata yang ditentukan redaksi media, bisa jadi kendalanya.

“Bila saja karakter tokohnya bisa dihidupkan, maka cerpen yang dihasilkan akan jauh lebih menarik,” terang Muhajir yang mendaku mendalami filsafat itu.

Pembahas ketiga, yakni Ferdhiyadi, pegiat literasi dan dosen Fakultas Ilmu Sosial-Hukum UNM, merupakan sahabat lama Adil Akbar, sehingga ia cukup mengenal baik penulis.

Ferdhi menyoroti tokoh-tokoh besar yang dihadirkan dalam cerpen-cerpen “Secangkir Kopi yang Berkisah”, yang berasal dari kalangan bangsawan, tokoh politik, atau petinggi militer.

“Sebenarnya menarik bila penulis lebih menonjolkan sudut pandang orang biasa dalam cerpennya. Karena selama ini suasana dan gejolak batin orang biasa jarang diungkap dalam cerpen berlatar sejarah,” papar Ferdhiyadi.

Usai pembahasan buku antologi cerpen, dilanjutkan dengan talkshow sekaitan dengan penerbitan buku yang naskahnya siap cetak. Sesi yang dibawakan oleh A Nursayyidatul Lutfiah dari Forum Lingkar Pena (FLP) sekaligus membuka kelas menulis bagi peserta yang hadir. (*)

BACA JUGA:  Gelar Zine Fest Vol. 1: Bontonyeleng Perspektif Lintas Generasi

.