Oleh: Andi Fajrin Syam (aktivis disabilitas, dan Ketua Gammara Inklusi)
Makassar, NusantaraInsight — Ruangan itu tidak terlalu besar. Pada akhir Mei lalu, beberapa binaan tunanetra duduk berpasangan sambil mencoba teknik pijat dasar yang baru mereka pelajari. Ada yang masih ragu menekan pundak temannya. Ada pula yang sesekali berhenti karena jarinya mulai pegal.
Di sela-sela latihan, instruktur akan datang membetulkan posisi tangan mereka, lalu meminta gerakan diulang perlahan.
Suasana seperti itu berlangsung selama tiga minggu di SLB A YAPTI Makassar.
Sekolah, melalui OSIS, menggelar pelatihan pijat bagi siswa dan binaan tunanetra sebagai bagian dari penguatan keterampilan hidup.
Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin terlihat biasa saja. Hanya enam kali pertemuan. Tidak memakai ruangan mewah. Tidak pula menggunakan alat-alat modern.
Namun bagi para peserta, pelatihan itu menjadi salah satu cara untuk menyiapkan diri menghadapi kehidupan setelah keluar dari sekolah atau asrama.
“Supaya nanti ketika selesai dari Yapti, teman-teman memiliki keterampilan dan skill khususnya memijat sehingga bisa bermanfaat dan bisa beradaptasi dengan masyarakat ketika sudah keluar nanti dari Yapti,” kata Hamdan Dani Ismail, Ketua OSIS SLB A YAPTI, saat diwawancarai pada 5 Juni 2026.
Hamdan kini duduk di kelas 11. Tahun ini, ia dipercaya memimpin OSIS sekaligus ikut mengelola pelatihan tersebut.
Ia bercerita bahwa kegiatan keterampilan pijat sebenarnya bukan hal baru di lingkungan YAPTI. Pada tahun-tahun sebelumnya, pelatihan serupa juga pernah diadakan, meski tidak rutin.
“Biasanya itu pelatihan OSIS diadakan dua tahun atau tiga tahun sekali,” ujarnya.
Namun tahun ini berbeda. Pelatihan masuk dalam penganggaran dana BOS sekolah. Sekolah menyediakan anggaran, sementara OSIS diberi kepercayaan penuh untuk menjalankan kegiatan.
“Sekolah yang menganggarkan, tetapi OSIS yang menjalankan,” kata Hamdan.
Peserta pelatihan tidak hanya berasal dari siswa aktif SLB, tetapi juga binaan YAPTI, termasuk mahasiswa yang masih tinggal atau berstatus binaan di lingkungan yayasan.
Terdapat sekitar 26 peserta yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Pelatihan berlangsung dalam enam kali pertemuan selama tiga minggu, yakni pada 16, 17, 23, 24, 30, dan 31 Mei 2026.
“Untuk total yang mengikuti pesertanya itu 26,” jelas Hamdan.
Di balik pelaksanaan yang tampak sederhana, Hamdan mengaku cukup banyak hal yang harus dipersiapkan. Sebagai pengurus OSIS, ia tidak hanya mengatur jalannya kegiatan, tetapi juga mengurus administrasi, dokumentasi, hingga laporan penggunaan dana.













