“Saya dulu kupijit tembok supaya kuat ki,” katanya sambil tertawa.
Bagi Rabiah, keterampilan pijat bukan sekadar kegiatan tambahan. Ia melihat keterampilan itu sebagai jalan hidup yang nyata bagi banyak tunanetra.
“Biar kuliah orang bisa juga memijit untuk penambah-penambah biaya hidup,” katanya.
Kalimat itu diucapkannya ringan, tetapi terasa sangat dekat dengan realitas banyak penyandang disabilitas netra di Indonesia.
Di tengah masih terbatasnya akses pekerjaan formal, pijat masih menjadi salah satu profesi yang paling banyak digeluti tunanetra.
“Kuakui ini pijit-pijit juga kasih hidup ki,” ujarnya lagi.
Karena itu pula, Rabiah berharap keterampilan dasar yang diberikan selama pelatihan dapat benar-benar dipakai peserta setelah keluar dari sekolah.
“Paling tidak mereka bisa mi penyegaran,” katanya. “Kalau dasar, insyaallah bisa.”
Harapan serupa juga disampaikan salah satu peserta, Isdahliah Majid. Alumni SLB YAPTI itu mengaku pelatihan tersebut memberinya pengalaman baru yang menyenangkan.
“Saya berharap melalui pelatihan pijat ini, saya dapat menguasai teknik-teknik pijat yang benar, aman, dan bermanfaat,” tulis Isdahliah melalui pesan teks pada 6 Juni 2026.
Ia berharap keterampilan yang dipelajarinya dapat digunakan untuk membantu orang lain sekaligus menjadi bekal masa depan.
“Semoga ilmu yang saya dapatkan bisa saya praktikkan dengan baik untuk membantu meringankan rasa pegal atau ketidaknyamanan orang lain, serta menjadi bekal keterampilan yang berguna bagi masa depan saya,” harapnya.
Bagi Isdahliah, bukan hanya materi pelatihan yang berkesan, tetapi juga suasana belajar yang menurutnya hangat dan penuh perhatian.
“Kesan saya terhadap pelatihan ini sangat luar biasa dan menyenangkan,” jelasnya. “Cara penyampaian materinya mudah dimengerti, penuh kesabaran, dan sangat memperhatikan kami satu per satu.”
Ia juga merasa dihargai selama mengikuti pelatihan.
“Suasana pelatihan hangat, akrab, dan penuh semangat. Saya merasa sangat dihargai dan terbantu untuk bisa belajar hal baru yang sangat berguna ini,” ungkap gadis asal Barru ini.
Di akhir pesannya, Isdahliah menyampaikan harapan agar kegiatan serupa terus dilanjutkan di masa mendatang.
“Semoga kegiatan positif seperti ini terus dilestarikan dan semakin ditingkatkan di masa mendatang, agar semakin banyak teman-teman yang bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman yang sama hebatnya,” pungkasnya.
Bagi OSIS sendiri, pelatihan ini bukan sekadar kegiatan tahunan. Hamdan mengatakan panitia bahkan berinisiatif menyiapkan sertifikat bagi peserta karena pada pelatihan sebelumnya belum pernah ada sertifikat resmi.













