Pelatihan Pijat Untuk Masa Depan: Begini Upaya YAPTI Membekali para Anak Binaannya

“Karena dana BOS ini tidak boleh main-main. Jadi semuanya harus lengkap,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Bagi Hamdan, pengalaman itu menjadi pelajaran baru tentang tanggung jawab dan pengelolaan organisasi.

“Selain keterampilan, kami juga belajar bagaimana mengelola kegiatan,” katanya.

“Harus mengatur waktu, administrasi, dokumentasi, semuanya.”

Ia bahkan beberapa kali menyebut kata “akuntabilitas” ketika menjelaskan bagaimana laporan kegiatan harus disusun dengan rapi karena menggunakan dana pemerintah.

Di tengah proses itu, Hamdan tetap melihat inti utama kegiatan ini adalah soal bekal hidup bagi teman-temannya sesama tunanetra.

“Cepat ataupun lambat teman-teman pasti akan meninggalkan Yapti,” katanya. “Nah, pada saat meninggalkan Yapti itulah keterampilan yang sudah didapatkan bisa berguna sekali.”

Menurut Hamdan, keterampilan pijat menjadi salah satu kemampuan yang paling realistis diakses siswa tunanetra saat ini. Bahkan hingga sekarang, ia menyebut pelatihan komputer belum masuk dalam penganggaran keterampilan yang bisa diakses melalui dana BOS.

“Kalau untuk komputer itu belum,” ujarnya.

Karena itu, pijat masih menjadi salah satu keterampilan utama yang terus dipertahankan di lingkungan sekolah.

BACA JUGA:  Denyut Kehidupan di Car Free Day (3) : Skateboarding, Cara Dede Menikmati Kebebasan

Untuk peserta perempuan, pelatihan dipandu oleh Sitti Rabiah, seorang instruktur pijat tunanetra yang telah lama berkecimpung di dunia terapi pijat.

Saat diwawancarai pada 6 Juni 2026, Rabiah bercerita santai tentang pengalamannya melatih para peserta.

“Kalau ini ndak ada teori, praktik saja,” katanya.

Rabiah memahami bahwa waktu enam pertemuan terlalu singkat untuk menjelaskan teori panjang. Karena itu, ia memilih langsung mengajarkan praktik dasar yang menurutnya paling penting dipahami peserta.

“Singkat sekali memang kalau hanya enam kali tiga minggu begitu,” ujarnya.

Pelatihan untuk peserta perempuan dilaksanakan pada Sabtu dan Minggu. Hari Sabtu dimulai sekitar pukul setengah dua siang hingga sore, sedangkan hari Minggu berlangsung dari pagi sampai ashar.

“Kalau hari Minggu dari jam sembilan sampai jam dua belas. Istirahat, lalu lanjut lagi sampai jam lima,” kata Rabiah.

Ia mengakui kemampuan peserta berbeda-beda. Ada yang cepat memahami teknik pijat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama.

“Ada yang cepat, ada juga yang lambat karena beda-beda cara tangkapnya,” ujarnya.

BACA JUGA:  HIPMA GTT-Makassar Sarankan Bupati SBT Angkat Kades yang Punya Gagasan Tentang Pembangunan Desa

Namun secara umum, ia melihat para peserta cukup antusias belajar. Bahkan ketika beberapa peserta mulai mengeluh sakit tangan setelah latihan berulang-ulang, Rabiah justru tertawa karena teringat pengalaman masa lalunya sendiri.