“Kalau untuk komputer itu belum,” ujarnya.
Karena itu, pijat masih menjadi salah satu keterampilan utama yang terus dipertahankan di lingkungan sekolah.
Untuk peserta perempuan, pelatihan dipandu oleh Sitti Rabiah, seorang instruktur pijat tunanetra yang telah lama berkecimpung di dunia terapi pijat.
Saat diwawancarai pada 6 Juni 2026, Rabiah bercerita santai tentang pengalamannya melatih para peserta.
“Kalau ini ndak ada teori, praktik saja,” katanya.
Rabiah memahami bahwa waktu enam pertemuan terlalu singkat untuk menjelaskan teori panjang. Karena itu, ia memilih langsung mengajarkan praktik dasar yang menurutnya paling penting dipahami peserta.
“Singkat sekali memang kalau hanya enam kali tiga minggu begitu,” ujarnya.
Pelatihan untuk peserta perempuan dilaksanakan pada Sabtu dan Minggu. Hari Sabtu dimulai sekitar pukul setengah dua siang hingga sore, sedangkan hari Minggu berlangsung dari pagi sampai ashar.
“Kalau hari Minggu dari jam sembilan sampai jam dua belas. Istirahat, lalu lanjut lagi sampai jam lima,” kata Rabiah.
Ia mengakui kemampuan peserta berbeda-beda. Ada yang cepat memahami teknik pijat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama.
“Ada yang cepat, ada juga yang lambat karena beda-beda cara tangkapnya,” ujarnya.
Namun secara umum, ia melihat para peserta cukup antusias belajar. Bahkan ketika beberapa peserta mulai mengeluh sakit tangan setelah latihan berulang-ulang, Rabiah justru tertawa karena teringat pengalaman masa lalunya sendiri.
“Saya dulu kupijit tembok supaya kuat ki,” katanya sambil tertawa.
Bagi Rabiah, keterampilan pijat bukan sekadar kegiatan tambahan. Ia melihat keterampilan itu sebagai jalan hidup yang nyata bagi banyak tunanetra.
“Biar kuliah orang bisa juga memijit untuk penambah-penambah biaya hidup,” katanya.
Kalimat itu diucapkannya ringan, tetapi terasa sangat dekat dengan realitas banyak penyandang disabilitas netra di Indonesia.
Di tengah masih terbatasnya akses pekerjaan formal, pijat masih menjadi salah satu profesi yang paling banyak digeluti tunanetra.
“Kuakui ini pijit-pijit juga kasih hidup ki,” ujarnya lagi.
Karena itu pula, Rabiah berharap keterampilan dasar yang diberikan selama pelatihan dapat benar-benar dipakai peserta setelah keluar dari sekolah.
“Paling tidak mereka bisa mi penyegaran,” katanya. “Kalau dasar, insyaallah bisa.”
Harapan serupa juga disampaikan salah satu peserta, Isdahliah Majid. Alumni SLB YAPTI itu mengaku pelatihan tersebut memberinya pengalaman baru yang menyenangkan.
“Saya berharap melalui pelatihan pijat ini, saya dapat menguasai teknik-teknik pijat yang benar, aman, dan bermanfaat,” tulis Isdahliah melalui pesan teks pada 6 Juni 2026.
Ia berharap keterampilan yang dipelajarinya dapat digunakan untuk membantu orang lain sekaligus menjadi bekal masa depan.
“Semoga ilmu yang saya dapatkan bisa saya praktikkan dengan baik untuk membantu meringankan rasa pegal atau ketidaknyamanan orang lain, serta menjadi bekal keterampilan yang berguna bagi masa depan saya,” harapnya.
Bagi Isdahliah, bukan hanya materi pelatihan yang berkesan, tetapi juga suasana belajar yang menurutnya hangat dan penuh perhatian.
“Kesan saya terhadap pelatihan ini sangat luar biasa dan menyenangkan,” jelasnya. “Cara penyampaian materinya mudah dimengerti, penuh kesabaran, dan sangat memperhatikan kami satu per satu.”
Ia juga merasa dihargai selama mengikuti pelatihan.
“Suasana pelatihan hangat, akrab, dan penuh semangat. Saya merasa sangat dihargai dan terbantu untuk bisa belajar hal baru yang sangat berguna ini,” ungkap gadis asal Barru ini.












