“Nanti rencananya akan diberikan sertifikat,” katanya.
Menurutnya, sertifikat itu penting sebagai bukti bahwa peserta pernah mengikuti pelatihan keterampilan yang bisa digunakan di kemudian hari.
Tetapi lebih dari sekadar sertifikat, pelatihan ini sebenarnya sedang menanamkan sesuatu yang lebih besar: rasa percaya diri bahwa mereka memiliki kemampuan yang dapat dipakai untuk hidup mandiri.
Di ruang kecil itu, anak-anak tunanetra bukan hanya belajar teknik menekan otot atau meredakan pegal. Mereka sedang belajar bahwa tangan mereka bisa bekerja, bisa membantu orang lain, bahkan bisa menjadi jalan untuk bertahan hidup.
Dan mungkin, di tengah dunia yang masih sering meragukan kemampuan para penyandang disabilitas, optimisme seperti itulah yang paling penting untuk ditanamkan dan diwariskan. (*)













