News  

CIDES ICMI Sulsel Siap Jadi Pusat Kajian Strategis Pembangunan

Makassar, NusantaraInsight — Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., mengajak generasi muda Muslim untuk membangun tradisi riset dan inovasi sebagai jalan mengembalikan kejayaan peradaban Islam di masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Arif Satria saat memberikan kuliah kebangsaan dalam rangka Silaturahim Kerja Wilayah ICMI Wilayah Sulawesi Selatan digelar bekerja sama Universitas Negeri Makassar (UNM), Ahad (7/6/2026), di Rumah Jabatan Rektor UNM.

Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan pelantikan badan otonom Majelis Kajian Pembangunan Daerah (MKPD) Center for Information and Development Studies (CIDES) ICMI Orwil Sulsel 2026-2031.

Pada sambutannya, Arif Satria yang juga menjabat Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengawali pemaparannya dengan kisah inspiratif ilmuwan peraih Hadiah Nobel Kimia 2025, Omar Yaghi.

Menurutnya, Yaghi yang memiliki latar belakang sebagai anak pengungsi Palestina berhasil membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menghasilkan karya besar bagi kemanusiaan.

“Puluhan tahun beliau melakukan penelitian hingga menghasilkan inovasi yang mampu memanen air dari udara di wilayah gurun. Ini menunjukkan bahwa riset yang dilakukan dengan ketekunan dapat memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia,” ujar Arif.

BACA JUGA:  Tunggu Apalagi, Daftar dan Ikuti Seminar Nasional Bahasa Ibu 2025

Omar Yaghi bersama Susumu Kitagawa dari Jepang dan Richard Robson dari Inggris meraih Nobel Kimia 2025 atas pengembangan kerangka logam-organik atau Metal-Organic Frameworks (MOF), sebuah material inovatif yang dapat dimanfaatkan untuk menangkap karbon dioksida serta menghasilkan air dari udara di kawasan kering.

Arif menilai kisah tersebut menjadi pelajaran penting bagi generasi muda Muslim untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi yang mampu menjawab berbagai persoalan global seperti krisis air, energi, lingkungan, dan kesehatan.

“Kita membutuhkan lebih banyak ilmuwan Muslim yang mampu menghasilkan karya-karya besar. Saat ini jumlah peraih Nobel dari kalangan Muslim masih sangat sedikit. Karena itu, momentum ini harus menjadi pemantik lahirnya inovator-inovator baru dari kalangan muda,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan riset tidak dapat dicapai secara instan. Dibutuhkan kesabaran, ketangguhan, kejelian, serta konsistensi dalam jangka panjang.

“Banyak ilmuwan meraih penghargaan tertinggi setelah puluhan tahun melakukan penelitian. Karena itu, perguruan tinggi harus membangun budaya riset yang kuat dan berkelanjutan,” tambahnya.