Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid: Unhas agar Jembatani Disiplin-Disiplin Tangani Kekayaan yang Tak Terurus

Direktur Kebudayaan (Dirjen) Kebudayaan Hilmar Farid, Ph.D bersama Dahlan Abubakar (kanan)

“Makassar adalah hub (perangkat jaringan yang berfungsi menghubungkan) pada masa lalu menghubungkan Australia, Pasifik, dan Tiongkok. Karaeng Pattingaloang (yang menguasai banyak bahasa) lahir dari interaksi dengan para pendatang asing tersebut pada saat Makassar menjadi ‘hub’ dan sebagai kota yang kosmopolitan,” ujar Hilmar Farid.
Kebudayaan ‘archipelagos” berkaitan dengan mobilitas dan migrasi dari sudut ekonomi, sosial, sejarah, dan seterusnya dari waktu ke waktu. Bagaimana orang beradaptasi dalam proses itu.

Hilmar Farid menyebutkan, menyangkut pengelolaan sumber daya laut yang menjadi poros pembicaraan kita, orang-orang yang sebenarnya berperan sangat besar di dalam kebudayaan ini, sekarang narasinya malah tidak jelas. Bahkan kalau kita berbicara ekonomi kreatif, hari ini sangat bias. Yang kita bayangkan itu Korea. Padahal, banyak orang asing iri dengan Indonesia yang memiliki kekayaan yang luar biasa.

“Hanya saja, Korea itu mampu memanfaatkan keterbatasan potensinya menjadi kekuatan. Kita memiliki kelimpahan, namun karena terlalu berlimpah, akhirnya bingung sendiri. Mungkin itu problem yang perlu kita pikir bersama-sama,” ujar Hilmar Farid.

BACA JUGA:  Penampilan Menarik Murid TK Aisyiyah Bustanul Athfal Mamajang di Rakorda II BAN-PDM Sulsel

Keragaman biokultural terdapat pada tiga wilayah yang dominan, Amazon, Afrika, dan kita Nusantara. Ini merupakan tiga wilayah dengan keanekaragaman biokultural yang tertinggi di dunia. Di dalam “global index biodiversity” yang dibuat tahun 2005, Indonesia itu nomor satu.
Kawasan Wallace, mencakup Maluku, Nusa Tenggara, dan Sulawesi, satu region secara geografis. Hewan, tanamannya segala macam itu satu. Inti biodiversifitas ini adanya di daerah Wallace. Seratus dua puluh tahun lalu, laut kita 120m lebih dangkal dari sekarang, sehingga kita bisa jalan kaki dari Kalimantan ke Jawa. Tetapi kita tidak bisa melangkah dari Kalimantan ke Sulawesi karena di wilayah Wallace itu ada satu kantong yang membentuk satu kesatuan yang memang memisahkannya secara geografis.
Basis keanekaragaman biokultural di wilayah ini terdapat flora dan fauna endemik. Ada juga keragaman bahasanya yang juga sangat kuat. Meskipun secara Latin sama, namun pisang saja, dalam bahasa daerah itu berbeda-beda.

“Inilah terjadinya kemiskinan sains terhadap perbedaan yang terjadi dalam bahasa daerah. Ini keanekaragaman biokultural yang harus kita pertahankan,” ungkap Hilmar Farid.

BACA JUGA:  PPL Mahasiswa FSH UINAM Selesai, ini Pesan Kapolsek Manggala

Keragaman pulau juga melahirkan keragaman ilmu pengetahuan yang berbeda antara satu pulau dengan pulau yang lain. Masyarakatnya juga luar biasa. Bertemu antara Melanesia dan Austronesia, sehingga kulturalnya pun sangat unik. Ini dapat kita temukan fitur-fiturnya seperti di Kendari, Sulawesi Tenggara karena mereka lebih dekat dengan teman-teman di Maluku dan sebagainya.

Soal potensi, kata Hilmar Farid, di kawasan Wallace ini memiliki hutan tropis 31 juta hektare, magrove 3,1 juta hektare. Hanya saja, kalau dilihat dalam indeks pembangunan desa, kebanyakan desa tertinggal itu ada di Indonesia bagian timur, padahal kekayaannya luar biasa. Namun pengelolaan yang keliru, potensi-potensi yang luar biasa ini tidak tergarap.

Hilmar Farid merekomendasikan, Unhas ini menjadi rumah untuk mempelajari segala sesuatu soal ‘archipelagos’. Hal ini disebabkan posisi Unhas yang penting dan merupakan kampus tertua dan terpenting dengan memiliki sejumlah fakultas bisa menjawab segala persoalan yang ada. Yang datang ke Unhas ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia Timur.

“Ini tawaran sebenarnya, jika mau melaksanakan penelitian yang sifatnya menyeluruh dan tidak mungkin dikerjakan oleh satu lembaga. Apalagi kita memiliki banyak pakar dalam berbagai disiplin,” demikian Hilmar Farid dalam acara yang dihadiri Wakil Rektor I Prof.drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BM(K) mewakili Rektor Unhas, Wakil Rektor III Prof.Dr.Farida Patittingi, M.Hum, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unhas Prof.Dr.Akin Duli, M.A, dan sejumlah dosen dan mahasiswa Unhas yang memadati Auditorium Prof.A.Amiruddin. (mda).