Waktu dan Tempat Dipersilakan, Bisakah?

“Kata /merubah/ jika diurai berasal dari kata dasar dan memperoleh awalan apa?,” saya bertanya kepada para mahasiswa dengan pancingan untuk melahirkan pertanyaan berikut.
“Berasal dari kata dasar /rubah/’ yang mendapat awalan /me/,” jawab mereka.
“Betul mendapat awalan /me/. Sekarang, apa makna kata /rubah/?,” saya balik bertanya dan mereka sejenak diam. Kelas hening. Mungkin mereka baru menyadari sudah merasa ada dan menemukan kesalahan.

“Sejenis serigala, Pak,” jawab salah seorang mahasiswa pria yang duduk di pojok belakang.
“Kalau ‘merubah’?,” kejar saya.
Kelas kembali hening. Mungkin mereka berusaha menemukan jawaban yang tepat. Atau boleh jadi baru menyadari kekeliruannya sering menggunakan kata ‘merubah’ dalam komunikasi sehari-hari.

Awalan /me/ memiliki fungsi utama: menunjukkan proses atau aktivitas: mencuci, menulis, memasak. Menunjukkan hasil atau hasilnya: memecahkan, membuka, menutup. Menunjukkan perubahan keadaan: membesar, mempercepat, memperlemah. Dalam hal penggunaan kata /merubah/ itu, kita dapat artikan sebagai mengindikasikan perubahan bentuk. Bentuk yang baku adalah dari /merubah/ adalah /mengubah/.
“Jadi kalau /merubah/ mengindikasikan perubahan bentuk menjadi apa?,” pancing saya lagi.

BACA JUGA:  Kota Pala Kota 1000 Kenangan

“Saya mengharapkan Bapak merubah niatnya pensiun dini, bagaimana memaknai kalimat ini?,” para mahasiswa kembali diam.

Kalau kita merujuk pada makna ‘mengindisikan perubahan’, itu berarti “kita mengharapkan Bapak” itu mengindikasikan menjadi rubah (serigala) atau ‘membuat jadi’ serigala. Bayangkan seseorang kita harapkan harus mengubah dirinya menjadi serigala hanya karena kita salah kaprah menggunakan diksi /merubah/. Mendengar penjelasan saya, para mahasiswa terdiam.

“Saya mengharapkan kepada seluruh mahasiswa di kelas ini, jika ada teman dan sahabat yang salah menggunakan dua kalimat tersebut harap dikoreksi. Tetapi dengan cara-cara yang santun. Jangan sampai berdebat hingga menimbulkan tindakan anarkis di antara Anda semua.

Dipolisikan

Saya juga tertarik dengan judul pada halaman 49 “Bentuk Unik Kata Memolisikan”.

“Siapa yang mempolisikan saya, akan saya polisikan balik!,” kata politisi Fadli Zon menyambut ancaman pelaporan atas dirinya terkait kasus hoaks yang disebarkan oleh Ratna Sarumpaet.

Kita sering membaca diksi ‘mempolisikan’ ini di media cetak atau media daring. Jadi, sangat akrab dengan pembaca. Tetapi kata /mempolisikan/ yang benar adalah /memolisikan/ karena fonem /p/ akan luluh menjadi /m/ jika mendapat prefik /mem/.

BACA JUGA:  Jelang Puncak Haji, PPIH Intensifkan Kesiapan Jemaah

“Apa arti kata /memolisikan/?,” tanya penulis dalam bukunya itu.
Jika kita ingin mencari makna sesuai fungsi, katanya, lazim imbuhan /me-kan/, maka ada makna-makna semacam ‘membuat jadi’,(seperti pada kata ‘membangunkan’), ‘menyebabkan jadi’ (pada kata ‘menjauhkan’ dan ‘memecahkan’), ‘melakukan perbuatan’ (pada kata ‘memukulkan’). ‘melakukan pekerjaan orang lain’ (pada kata ‘membelikan’), “memasukkan ke” (pada kata ‘memenjarakan’).
Jika kita melihat fungsi awalan /me/ dikaitkan dengan kasus /mempolisikan/ itu, jelas tidak ada yang mengakomodasi makna ‘memolisikan’ (penulisan yang baku).
“Ketika Fadli Zon mengatakan ‘mempolisikan’ atau ‘memolisikan’ Denny Siregar misalnya, sudah tentu yang dia maksud bukan ‘membuat Denny Siregar menjadi polisi’. Lalu apa?
Kita sudah sama-sama memaklumi bahwa arti kata ‘memolisikan’ adalah melaporkan seseorang ke polisi agar orang tersebut ditangkap, lalu ditindak oleh polisi sesuai aturan hukum yang berlaku. Dengan demikian, kata tersebut keluar dari fungsi-fungsi standar imbuhan /me-kan/ yang sering kita baca dan temukan dalam kalimat berita media cetak atau di media sosial.
Hanya saja, kita sering tidak taat asas dalam menggunakan bahasa, khususnya terhadap kata-kata yang memperoleh prefik seperti ini. Kita lihat saja lema /pengaruh+i/ kerap ditulis /mempengaruhi/ padahal seharusnya /memengaruhi/. Begitu pun dengan /memposisikan/ seharusnya /memeosisikan/, dan /mempercayai/ menjadi ‘memercayai/.