Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. Mengenang Ayahnya. Buku ‘Bunga Rampai Sosiologi’ pada Tahun Kelahiran

Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu
Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu membacakan puisi untuk ayahnya

Kemarin Pak Ustaz menceritakan bahwa hingga 40 hari, ‘beliau’ (Pak Masri almarhum) masih di sekitar kita. Oleh karena itu Dwia ingin berbagi yang baik-baik tentang beliau dan mudah-mudahan beliau tersenyum melihat dan Insha Allah bisa menjadi inspirasi bagi kita semua dan betul-betul kami berharap menjadi amal jariah bagi beliau.

Kematian adalah kabar tepercaya dan pasti. Tidak ternoda oleh syak wasangka sedikit pun. Tidak ada ‘hoax’ tentang kematian. Allah sendiri berfirman dalam surah Al Anbiya:35, yang artinya” Setiap jiwa pasti merasakan kematian. Dan Kami timpakan fitnah bagimu berupa keburukan dan kebaikan, Kepada Kami-lah kalian dikembalikan”.

Dwia mengatakan, H.Masri lahir di Gorontalo, 87 tahun yang lalu dari keluarga guru. Ayahnya adalah seorang guru. Setamat Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), Masri ke Jakarta, memperjuangkan nasibnya. Dia tinggal pada keluarga hingga sampai pada karier yang cukup baik.

Alhamdulillah. Beliau menjadi seorang bankir. Posisi terakhir sebelum pensiun sempat menjadi wakil pemimpin wilayah (Wapimwil) BRI, dulu Sulawesi Selatan merangkap Papua dan Maluku. Terakhir beliau dipromosi menjadi Kepala Inspektorat Wilayah BRI Kalimantan.

BACA JUGA:  Hari Kedua di Kenya, Presiden Jokowi Bertemu Presiden William Ruto

“Alhamdulillah dari beliau kami belajar banyak. Bagaimana kerja keras dan sekolah itu adalah yang terpenting untuk mencapai karier yang baik. Teringat pesan beliau ketika mau menikah dengan Pak Natsir, saya belum selesai sarjana. Beberapa hari menjelang pernikahan, beliau memanggil Pak Natsir,” kenang Dwia.

“Bung, anak saya belum selesai sekolahnya. Bung harus mengizinkan Tina sekolah tinggi-tinggi. Dan alhamdulillah bisa diridai oleh Allah, suami mengizinkan saya sekolah setelah berkeluarga,” kata Dwia menirukan ucapan ayahnya memberi nasihat kepada Pak Natsir Kalla agar Tina (panggilan Dwia di rumah) tetap dibolehkan bersekolah hingga selesai.

“Jadi, satu hal yang ingin saya bagikan tentang kebaikan beliau kepada kita semua adalah :sekolah…sekolah…sekolah…,” sambung Dwia.

Dwia enam bersaudara. Satu orang telah meninggal. Tetapi di rumah banyak sekali kakak beradik. Kalau ayahnya pulang menemani Ibu ke Lampung, beliau melihat ada ponakan yang susah dan tidak sekolah, diambil lagi. Pulang lagi, diambil. Kita kakak-kakak dan adik menjadi banyak. Di rumah itu seperti asrama. Kalau beliau ke Gorontalo atau ada keluarga yang asal dari Gorontalo, kalau ada yang susah dan tidak sekolah, ditampung lagi di rumah. Yang penting sekolah. Dari tangan Masri banyak lahir ponakan-ponakan yang telah jadi. Ada yang menjadi pimpinan BRI, ada yang jadi Kepala Bappeda. Itu adalah adik-adik iparnya. Ada ponakannya. Kuncinya, sekolah.

BACA JUGA:  40 Tahun Berkarya, Goenawan Monoharto Diganjar Penghargaan dari Badan Bahasa Kemendikdasmen RI

Setahun terakhir, almarhum tinggal dengan Dwia di Makassar. Setelah menuntaskan kariernya sebagai bankir, beliau mengabdikan hidupnya untuk agama. Tinggal berdekatan dengan surau di Depok Jakarta. Berguru di sana tentang Tarikat Naqsabandiah. Dan terakhir posisinya dipercayakan sebagai imam surau.

“Ada satu tadi Ustaz Arifuddin Lewa (Arle) ceritakan tentang Alquran, mungkin ini bisa saya ‘sharing’,” kata Dwia.

Daya ingatnya luar biasa menjelang kematiannya. Beliau masih hafal nama-nama orang yang datang. Biar pun nama teman anaknya. Nama guru yoga Dwia pun dihafalnya. Dia hafal semua.

“Pak, saya mau ke Turki,” kata Dwia suatu saat sedang bertugas menelepon ayahnya yang saat itu di Depok.

“Oh..iya, jangan lupa. Nanti Tina (Dwia) ke Blue Mosque (Masjid Biru) ya, nanti letaknya di sini. Di Sofia di ini,” katanya.

“Apa Bapak sudah pernah ke sana,” Dwia bertanya balik kepada ayahnya.