Ketika pihak SLB YPAC Makassar—melalui dorongan gurunya—menawarkan Al-Amin untuk ikut serta dalam seleksi PESODA, Lisa Hikmah mengaku sempat dirundung keraguan.
Sebagai seorang ibu yang juga aktif sebagai aktivis bagi difabel, Lisa menyadari betapa ketatnya persaingan di tingkat daerah. Keraguan tersebut semakin memuncak saat ia melihat ketimpangan nyata di arena perlombaan.
Banyak kompetitor dari kategori disabilitas grahita memiliki kemampuan motorik yang matang, serta dapat berbicara dengan lancar dan komunikatif secara verbal.
Sebaliknya, Al-Amin datang dengan kondisi Down syndrome berat, bersifat non-verbal, memiliki komunikasi terbatas, dan sangat rentan terhadap gangguan sensorik.
Arena tersebut juga menyisakan dilema klasifikasi lomba, di mana anak dengan hambatan kognitif ringan harus berkompetisi di lintasan yang sama dengan anak berhambatan motorik kompleks seperti Al-Amin.
Lisa sempat berniat melayangkan protes kepada panitia terkait ketidakadilan ini, namun niat itu diredam oleh ketenangan sang suami yang menekankan kepasrahan pada usaha terbaik.
Hasilnya luar biasa, Al-Amin melampaui seluruh prediksi fisik dengan keluar sebagai peringkat pertama dan berhak atas medali emas.
Kemenangan dramatis ini sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan intelektual tidak berkorelasI linier dengan batas kemampuan motorik kasar jika diberikan stimulasi yang tepat dan konsisten.
Al-Amin berhasil mengalahkan pesaingnya yang secara verbal jauh lebih mandiri, membuktikan bahwa fokus dan latihan fisik yang terarah mampu mengungguli hambatan kognitif sejak lahir.
Kejuaraan PESODA Sulawesi Selatan tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Special Olympics Indonesia (SOIna) Sulawesi Selatan ini memang menjadi tonggak penting.
Di bawah kepemimpinan Andar Wijaya, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Panitia Pelaksana, serta didampingi Fatimah Azis sebagai perwakilan pengurus SOIna, kompetisi yang digelar pada Sabtu, 27 Juni 2026 ini berjalan sukses.
Sebanyak 88 peserta didik difabel intelektual dari 15 SLB se-Sulawesi Selatan berkumpul untuk menunjukkan kebolehan mereka.
Mereka bertanding dalam enam cabang olahraga resmi, yaitu atletik, bulutangkis, tenis meja, renang, senam ritmik, dan bocce.
Bagi para pemenang seperti Al-Amin, ajang ini membuka jalan menuju target kompetisi yang lebih tinggi: Special Olympics Nasional di Kupang, NTT, pada Oktober 2026 mendatang.
Menitip Kemandirian pada Hari Tua yang Menghampiri
Di balik kebahagiaan menyambut keberangkatan Al-Amin ke Kupang, terselip kecemasan eksistensial yang kerap menghantui pikiran Abdul Azis dan Lisa Hikmah.













