Asa di Ujung Lintasan: Perjuangan Orang Tua Muh Tal’at Al-Amin Menembus Batas Down Syndrome

Sebagai anak laki-laki dengan Down syndrome yang mulai memasuki fase remaja, Al-Amin menghadapi gejolak biologis yang rumit.

Keterbatasan kemampuan verbal dan kognitif membuatnya kesulitan mengespresikan atau mengontrol dorongan seksual (libido) yang mulai berkembang.

Al-Amin sempat menunjukkan perilaku meluapkan libido secara tidak tepat di tempat umum, sebuah situasi yang rentan memicu stigma negatif dan rasa malu bagi keluarga.

Melalui konsultasi intensif dengan psikolog, keluarga mendapatkan pemahaman bahwa anak-anak dengan disabilitas intelektual memerlukan aktivitas fisik berkekuatan tinggi guna menguras energi biologis mereka secara terarah.

Olahraga air seperti renang diidentifikasi sebagai terapi sensorik dan motorik terbaik.

Karakteristik air memberikan tekanan hidrostatik yang menenangkan sistem saraf Al-Amin, sementara gerakan renang yang repetitif merangsang regulasi emosi serta menguras kelebihan energi fisiknya.

Sejak Al-Amin rutin berlatih renang di Kolam Renang Stadion di bawah bimbingan pelatih yang sabar dan memahami penanganan tantrum, perilaku menyimpang tersebut berangsur-angsur hilang sepenuhnya.

Olahraga renang tidak lagi hanya menjadi sebuah cabang olahraga, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen terapi perilaku yang memulihkan martabat Al-Amin sebagai seorang remaja.

BACA JUGA:  Keyakinan Israel pada Janji Tuhan 3500 Tahun Lalu

Dari Kolam Stadion Menuju Panggung Nasional

Keberhasilan Al-Amin dalam ajang PESODA Sulawesi Selatan 2026 merupakan buah manis dari ketekunan latihan selama empat tahun terakhir.

Sejak duduk di bangku SMP kelas dua hingga kini berada di kelas dua SMA YPAC Makassar, Al-Amin menghabiskan waktu senggangnya di lintasan kolam Stadion. Hubungan yang erat antara Al-Amin dan pelatihnya menjadi kunci keberhasilan ini; sang pelatih tahu kapan harus membiarkan Al-Amin beristirahat saat emosinya tidak stabil, dan kapan harus mendorongnya berlatih dengan disiplin tinggi.

Ketika pihak SLB YPAC Makassar—melalui dorongan gurunya—menawarkan Al-Amin untuk ikut serta dalam seleksi PESODA, Lisa Hikmah mengaku sempat dirundung keraguan.

Sebagai seorang ibu yang juga aktif sebagai aktivis bagi difabel, Lisa menyadari betapa ketatnya persaingan di tingkat daerah. Keraguan tersebut semakin memuncak saat ia melihat ketimpangan nyata di arena perlombaan.

Banyak kompetitor dari kategori disabilitas grahita memiliki kemampuan motorik yang matang, serta dapat berbicara dengan lancar dan komunikatif secara verbal.

Sebaliknya, Al-Amin datang dengan kondisi Down syndrome berat, bersifat non-verbal, memiliki komunikasi terbatas, dan sangat rentan terhadap gangguan sensorik.

BACA JUGA:  Obyek Wisata di Bissoloro Mimpi Masa Depan

Arena tersebut juga menyisakan dilema klasifikasi lomba, di mana anak dengan hambatan kognitif ringan harus berkompetisi di lintasan yang sama dengan anak berhambatan motorik kompleks seperti Al-Amin.

Lisa sempat berniat melayangkan protes kepada panitia terkait ketidakadilan ini, namun niat itu diredam oleh ketenangan sang suami yang menekankan kepasrahan pada usaha terbaik.

Hasilnya luar biasa, Al-Amin melampaui seluruh prediksi fisik dengan keluar sebagai peringkat pertama dan berhak atas medali emas.

Kemenangan dramatis ini sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan intelektual tidak berkorelasI linier dengan batas kemampuan motorik kasar jika diberikan stimulasi yang tepat dan konsisten.

Al-Amin berhasil mengalahkan pesaingnya yang secara verbal jauh lebih mandiri, membuktikan bahwa fokus dan latihan fisik yang terarah mampu mengungguli hambatan kognitif sejak lahir.

Kejuaraan PESODA Sulawesi Selatan tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Special Olympics Indonesia (SOIna) Sulawesi Selatan ini memang menjadi tonggak penting.