Lebih dari sekadar kendala teknis dan finansial, hambatan terbesar justru bersumber dari skeptisisme sosial. Al-Amin kerap menjadi bahan cemohan di lingkungan sosialnya.
Bahkan dari lingkaran keluarga besar, muncul komentar-komentar diskriminatif yang mempertanyakan masa depan Al-Amin dan menganggap pengorbanan kedua orang tuanya sebagai kesia-siaan karena sang anak dianggap tidak akan pernah bisa membanggakan keluarga.
Tekanan mental ini sempat memicu beban psikologis yang berat bagi Lisa dan Azis, sebelum akhirnya mereka memilih untuk menutup telinga dan fokus menyelamatkan masa depan putra mereka.
Menyalurkan Energi Remaja Lewat Terapi Air
Keputusan untuk menekuni olahraga renang pada akhirnya didasarkan pada alasan yang melampaui sekadar pencarian prestasi.
Sebagai anak laki-laki dengan Down syndrome yang mulai memasuki fase remaja, Al-Amin menghadapi gejolak biologis yang rumit.
Keterbatasan kemampuan verbal dan kognitif membuatnya kesulitan mengespresikan atau mengontrol dorongan seksual (libido) yang mulai berkembang.
Al-Amin sempat menunjukkan perilaku meluapkan libido secara tidak tepat di tempat umum, sebuah situasi yang rentan memicu stigma negatif dan rasa malu bagi keluarga.
Melalui konsultasi intensif dengan psikolog, keluarga mendapatkan pemahaman bahwa anak-anak dengan disabilitas intelektual memerlukan aktivitas fisik berkekuatan tinggi guna menguras energi biologis mereka secara terarah.
Olahraga air seperti renang diidentifikasi sebagai terapi sensorik dan motorik terbaik.
Karakteristik air memberikan tekanan hidrostatik yang menenangkan sistem saraf Al-Amin, sementara gerakan renang yang repetitif merangsang regulasi emosi serta menguras kelebihan energi fisiknya.
Sejak Al-Amin rutin berlatih renang di Kolam Renang Stadion di bawah bimbingan pelatih yang sabar dan memahami penanganan tantrum, perilaku menyimpang tersebut berangsur-angsur hilang sepenuhnya.
Olahraga renang tidak lagi hanya menjadi sebuah cabang olahraga, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen terapi perilaku yang memulihkan martabat Al-Amin sebagai seorang remaja.
Dari Kolam Stadion Menuju Panggung Nasional
Keberhasilan Al-Amin dalam ajang PESODA Sulawesi Selatan 2026 merupakan buah manis dari ketekunan latihan selama empat tahun terakhir.
Sejak duduk di bangku SMP kelas dua hingga kini berada di kelas dua SMA YPAC Makassar, Al-Amin menghabiskan waktu senggangnya di lintasan kolam Stadion. Hubungan yang erat antara Al-Amin dan pelatihnya menjadi kunci keberhasilan ini; sang pelatih tahu kapan harus membiarkan Al-Amin beristirahat saat emosinya tidak stabil, dan kapan harus mendorongnya berlatih dengan disiplin tinggi.













