Menulis dalam “Tidur”

Mahasiswa yang saya ajar pada mata kuliah ini sudah banyak menjadi wartawan di berbagai media. Mereka itu kemudian menjadi contoh “success story” (cerita sukses) alumni yang sering diundang pada setiap ada penilaian akreditasi Departemen Sastra Indonesia FIB Unhas. Bahkan belasan tahun lalu, saat meliput satu kegiatan di Kabupaten Enrekang, saya didatangi oleh seorang pemuda yang langsung berjabat tangan.

“Saya mahasiswa peserta Jurnalistik Sastra yang bapak ajar,” katanya ketika masih menggenggam tangan saya.

Dalam tidur

Meskipun tidak menjelaskan kepada teman itu perihal resep menulis, kebanyakan waktu saya gunakan untuk menyelesaikan tulisan pada malam hari. Terkadang istri saya yang biasa tidur di depan TV di lantai satu rumah kami bergabung ke kamar tidur di lantai dua, kaget melihat saya masih duduk di depan laptop.

“Saya kira sudah tidur?,” begitulah kalimat yang rada terdengar klise saat menemukan saya asyik menulis antara pukul 01.30-02.00 dinihari.

Mengalirnya gagasan saya menulis lewat Tengah malam ini, mungkin didukung oleh suasana. Selain suasana sepi dan hening, juga di kamar tidur, saya sudah ‘bangun” tiga rak buku (masing-masing satu rak berisi lima baris buku dan setiap baris berisi 40-50 judul buku, tergantung tebalnya. Di belakang baris depan masih ada jejeran buku yang tersembunyi yang untuk membaca dan melihat judulnya, saya harus ‘mengungsikan’ baris di depan. Capek juga). Buku-buku yang ada di kamar tidur ini merupakan referensi yang setiap saat saya selalu gunakan.

BACA JUGA:  Cek Kosong Untuk Penguasa

Hanya saja selalu menjadi masalah karena saya sering bingung sendiri mencari judul buku itu di lokasi posisi diletakkannya. Terpaksa saya harus menggunakan lampu senter untuk menyorot punggung buku, tempat judulnya tertera. Masalahnya, buku-buku ini tidak memiliki indeks. Sama dengan buku yang ada di dalam lima lemari di perpustakaan pribadi di kamar depan atas.

Mengingat usia yang kian lansia (secara biologis menuju usia 72 tahun) saya terkadang mulai belajar cepat tidur. Biasanya mulai pukul 24.00 Wita. Ternyata, belajar tidur keluar dari kebiasaan bukan hal yang mudah. Terkadang saya memang sudah berbaring di tempat tidur, tetapi pikiran melayang ke mana-mana dan tiba-tiba saja muncul gagasan baru yang hendak dituangkan dalam tulisan. Tidak ada pilihan lain, tidur juga susah, saya pun bangun menghidupkan laptop lagi. Saya mulai menulis hingga habis. Oleh sebab itu, banyak teman yang melihat tulisan-tulisan ringan untuk media social rata-rata “diproduksi” lewat tengah malam.

Mungkin akibat dari kurang tidur ketika menyelesaikan disertasi tahun 2017, ‘format’ tidur saya mulai berantakan. Saya lebih mudah tidur duduk sambil tangan bersandar di meja pada siang hari, dibandingkan ketika berbaring di atas kasur pada malam hari. Mungkin inilah yang disebut, “siang jadi malam, dan malam jadi siang”. Entahlah.

BACA JUGA:  Om Boer, Sahabat yang Diam dan Pengertian

Menulis “dalam tidur” ini mungkin terbawa dari ketika saya kerap pulang tengah malam dari piket di Harian “Pedoman Rakyat” puluhan tahun silam. Saya sering pulang lewat tengah malam dalam kondisi ruas-ruas jalan kota sepi dan lengang. (Tentu saja berbeda dengan sekarang, Makassar jadi kota yang tidak pernah “tidur”). Barangkali dipengaruhi oleh suasana sunyi itu kadang-kadang sambil mengemudi mobil saya kerap menghayal. (Bahaya juga sebenarnya, tetapi karena suasana sepi, aman-aman saja).

Yang sering membuyarkan hayalan saya adalah jika tiba-tiba ada kejadian kecil di jalan. Ya, seperti sekali waktu, hari sudah larut malam, saya meninggalkan kediaman Pak Ande Abdul Latief (alm.) di Jl. Andi Mappanyukki. Waktu itu kediaman beliau menjadi markas supoter PSM Mappanyukki ketika belum banyak kelompok suporter PSM muncul seperti sekarang. Banyak wartawan bergabung di rumah tersebut. Di antaranya ada Waspada Santing dan Aidir Amin Daud dari harian Fajar. Biasanya, kami bermain kartu sebelum pulang ke rumah masing-masing.