Prof. Kembong menambahkan bahwa ia merasakan betapa berharganya kenangan dan kisah hidup, serta betapa pentingnya untuk menjaganya dalam bentuk yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Masya Allah… saya terkadang dan sangat menginspirasi betapa pentingnya kisah kita diabadikan dengan tulisan yang di dokumentasikan dalam bentuk buku.
Dengan begitu, apa yang menjadi kisah dari Prof. Kembong Daeng menjadi pengingat bahwa siapa saja apapun latar belakang kita setiap kita pasti memiliki kisah yang layak untuk diabadikan, oleh karena setiap pengalaman memiliki nilai, dan bahwa menulis adalah cara untuk mengukir kenangan kita di atas batu, sehingga mereka akan abadi, meskipun waktu terus berjalan dan kita pun akan melewati kehidupan yang bernama dunia menuju kehidupan yang abadi yaitu kehidupan akhirat dan mungkin dengan cara menulis adalah amal jariyah terwariskan “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al Anbiya: 35)
“Apabila anak adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir), ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.” (Hadits)
Parang Tambung, 6 November 2023












