Peluang ini terbuka bagi masuknya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), jika pemerintah desa memiliki kreasi dan inovasi. BUMDes ini dikelola oleh satu tim khusus yang diawasi ketat. Manajemennya harus dilakukan secara profesional. Bayangkan berapa banyak produksi jagung di Desa Kanca misalnya. Bisa mencapai ratusan ton. Artinya, “tarese” BUMDesa melayani kebutuhan warga Desa Kanca sendiri.
Jika ini berhasil, desa akan menjadi percontohan bagaimana desa menyediakan sarana sosial dan bisnis untuk warganya. Tentu saja dikelola secara profesional dan akuntabilitas tinggi dengan memperhitungkan biaya pemeliharaan dan yang meringankan. Jangan sampai BUMDesa menjadi ladang korupsi baru.
Ketika usaha mesin ‘tarese’ ini sukses, bisa membuka usaha baru. Misalnya, usaha pengangkutan desa kecil-kecilan yang melayani masyarakat yang memerlukan angkutan untuk mengangkut orang atau jagung dan dibanderol dengan biaya yang terjangkau dan murah. Boleh mengangkut jagung dan orang, sesuai peruntukannya.
Dalam praktiknya, petani jagung kita termakan promosi gombal pengusaha, baik pengusaha jagung maupun pupuk serta bibit. Yang diiming-imingkan keuntungan yang melimpah ruah, tetapi tidak pernah dibayangkan ruginya yang memang sengaja disembunyikan karena merupakan rahasia perusahaan. Ini merupakan bentuk ketidakadilan informasi yang akhirnya menjebak petani jagung sendiri.
Dari kalkulasi dasar, terlalu banyak biaya yang dipikul petani. Dia harus membeli bibit, pupuk, dan juga berutang dalam bentuk kredit. Dana itu habis untuk seluruh komponen proses produksi, mulai dari penyiapan lahan hingga proses akhir hingga penjualan hasil. Semua simpulnya tidak ada yang gratis. Memerlukan dana. Jika dihitung-hitung, petani dengan produksi berlimpah mungkin masih bisa sedikit bernapas lega. Tetapi yang produksinya tidak memadai, malah tertimbun hutang. Ini lagu yang sudah kerap dalam lara petani jagung.
Namun demikian, adanya hutan percontohan di Mada Nangga dan Mada Singgi diharapkan lagu lara itu tidak terdengar lagi. Untuk proyek penanaman kembali hutan gundul dengan tanaman produktif, belum terlambat dilakukan lagi. Namun harus ada keseriusan dan fokus. Menanam kembali hutan dengan pohon produktif rasanya jauh lebih menguntungkan, meskipun untuk menikmatinya memerlukan waktu. Jika penanaman kembali hutan ini sedang maksimal, jelas akan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat. Kecamatan Parado Kabupaten Bima Provinsi NTB bisa menjadi contoh yang layak ditiru. Datanglah menengok penanaman hutan di sana. (*).












