Untuk level desa, seperti di Desa Kanca Kecamatan Parado Kabupaten Bima, upah kerja seorang sehari (yang terkadang hanya bekerja sampai setelah makan siang) berkisar Rp 100.000- Rp 150.000. Upah kerja ini berlaku seragam, baik pada saat prapanen maupun saat panen.
Anak-anak sekolah dasar pun dapat memanfaatkan waktu setelah pulang sekolah bekerja membantu kegiatan saat dan pascapanen jagung dengan upah Rp 25.000 per orang.
Bisa dibayangkan, dengan hanya bekerja selama 5 hari saja, warga desa sudah pasti dapat mengantongi uang ratusan ribu. Belum lagi kalau mereka bekerja beberapa hari. Dan kesempatan bekerja ini terbuka untuk beberapa warga yang memiliki lahan jagung yang cukup luas. Sebab, seorang terkadang memiliki areal lahan seluas sampai 5 ha. Pekerjaan ini sudah pasti, yang tentu saja tidak kita temukan di kota besar. Apalagi tenaga kerja di desa jumlahnya terbatas, sehingga peluang seseorang memperoleh upah cukup terbuka. Jumlah yang memerlukan tenaga kerja juga banyak.
Jadi, pertanaman jagung sebenarnya mampu membuka lapangan kerja bagi warga desa. Mereka tidak perlu melakukan urbanisasi ke kota untuk mencari pekerjaan yang belum pasti. Di desa, tidak diperlukan keterampilan dan pengetahuan khusus berkenaan dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Mereka cukup mengikuti apa yang dilakukan oleh mereka yang terbiasa pada satu pekerjaan tertentu.
Kenyataannya, di desa kini dipenuhi oleh para pemuda yang putus sekolah yang masih mau ke gunung dan ladang untuk mengerjakan pertanaman jagung. Jika tidak, tenaga kerja dari luar desa terpaksa didatangkan. Di Desa Kanca misalnya, anak-anak muda lebih banyak sudah meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu. Yang ada di desa hanyalah orang-orang tua, para lansia, dan juga anak-anak sekolah dasar. Di ruas jalan desa pada jam-jam tertentu tampak sepi dan lengang. Warga desa yang masih kuat bekerja sudah di ladang-ladang jagung mereka. Jumlah warga yang beberapa orang — terutama lansia — nanti saya jumpai saat salat berjamaah di masjid pada saat zuhur tiba. Jumlah yang agak banyak pada saat salat berjamaah magrib dan subuh karena mereka sudah kembali dari ladang.
Lingkaran setan
Usaha pertanaman jagung bukannya tidak menimbulkan masalah. Persoalan yang muncul menjelang tanam misalnya, terkait dengan penyediaan bibit. Bibit itu pun harus berlabel tertentu. Harganya menurut informasi yang saya peroleh untuk 20 kg harganya Rp 2 juta. Bahkan ada yang sampai Rp 2,5 juta. Itu berarti 1 kg dilabeli Rp 200.000 yang dikemas sebesar bungkus mie instan.
Bandingkan saja dengan harga jagung sekarang yang dipatok katakanlah Rp 4.000 per kg atau Rp 400.000/100 kg. Untuk setara 20 kg bibit, harus dilego 500 kg jagung. Bandingkan saja pupuk 1 kg Rp 200.000, sementara jagung 1 kg hanya Rp 4.000. Begitu timpang. Belum lagi upah kerja per orang, bisa mencapai 25 kg jagung atau setara Rp 100.000.
Persoalan pascapanen pun tidak kurang menimbulkan biaya tinggi. Ongkos mengangkut jagung satu truk Rp 1 juta. Hitung saja berapa puluh ton jagung diangkut dikalikan dengan tarif sekali angkut. Yang untung pemilik truk. Jarak angkut pun tidak lebih dari 7-8 km dari hutan nun jauh dari desa.
Untuk merontokkan biji jagung berpisah dengan tongkolnya yang orang Bima sebut dengan “tarese” seorang petani jagung harus merogoh koceknya Rp 200.000 per 10 karung. Hitung saja berapa karung yang harus dipisahkan biji jagung dari tongkolnya.
Mesin ‘tarese’ ini hanya memerlukan sandaran, yakni satu unit truk bak terbuka yang sudah tua. Yang penting mesin “tarese” bisa sampai ke lokasi. Di Desa Kanca saja, ada pemilik yang memiliki 2 unit mesin ini. Namun satu dioperasikan di Calabai, Tambora, satu lainnya di Desa Kanca.












