Harus diakui benar, kehadiran pertanaman jagung di Bima secara mengejutkan awalnya membawa kesejahteraan bagi masyarakat petani jagung dan warga sekitarnya.
Masalahnya, pekerjaan menanam jagung membuka lapangan kerja baru bagi warga setempat. Hampir setiap tahap proses pengerjaan menanam jagung membuka kesempatan pekerjaan baru bagi masyarakat. Mulai dari membersihkan lahan, menanam, memanen, mengangkut, hingga kepada pekerjaan mengangkut. Ongkos tenaga kerja ini tidak main-main.
Bagi tenaga kerja di desa, bahkan didatangkan dari luar kabupaten, seperti dari Flores dan Sumba, usaha jagung memang menggiurkan. Bayangkan saja, upah seorang pekerja sehari bisa Rp 100.000. Itu pun mereka kerja tidak maksimal karena waktu habis untuk menuju dan kembali dari lahan yang harus melalui jalan kaki.
Berusaha jagung di sisi lain menguntungkan para tenaga kerja, tetapi membuat kantong pemilik lahan kosong. Pasalnya, setiap komponen kegiatan mulai dari pembersihan lahan hingga akhir produksi memerlukan dana. Hitung saja berapa banyak dana yang dikeluarkan pemilik lahan.
Untuk level desa, seperti di Desa Kanca Kecamatan Parado Kabupaten Bima, upah kerja seorang sehari (yang terkadang hanya bekerja sampai setelah makan siang) berkisar Rp 100.000- Rp 150.000. Upah kerja ini berlaku seragam, baik pada saat prapanen maupun saat panen.
Anak-anak sekolah dasar pun dapat memanfaatkan waktu setelah pulang sekolah bekerja membantu kegiatan saat dan pascapanen jagung dengan upah Rp 25.000 per orang.
Bisa dibayangkan, dengan hanya bekerja selama 5 hari saja, warga desa sudah pasti dapat mengantongi uang ratusan ribu. Belum lagi kalau mereka bekerja beberapa hari. Dan kesempatan bekerja ini terbuka untuk beberapa warga yang memiliki lahan jagung yang cukup luas. Sebab, seorang terkadang memiliki areal lahan seluas sampai 5 ha. Pekerjaan ini sudah pasti, yang tentu saja tidak kita temukan di kota besar. Apalagi tenaga kerja di desa jumlahnya terbatas, sehingga peluang seseorang memperoleh upah cukup terbuka. Jumlah yang memerlukan tenaga kerja juga banyak.
Jadi, pertanaman jagung sebenarnya mampu membuka lapangan kerja bagi warga desa. Mereka tidak perlu melakukan urbanisasi ke kota untuk mencari pekerjaan yang belum pasti. Di desa, tidak diperlukan keterampilan dan pengetahuan khusus berkenaan dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Mereka cukup mengikuti apa yang dilakukan oleh mereka yang terbiasa pada satu pekerjaan tertentu.
Kenyataannya, di desa kini dipenuhi oleh para pemuda yang putus sekolah yang masih mau ke gunung dan ladang untuk mengerjakan pertanaman jagung. Jika tidak, tenaga kerja dari luar desa terpaksa didatangkan. Di Desa Kanca misalnya, anak-anak muda lebih banyak sudah meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu. Yang ada di desa hanyalah orang-orang tua, para lansia, dan juga anak-anak sekolah dasar. Di ruas jalan desa pada jam-jam tertentu tampak sepi dan lengang. Warga desa yang masih kuat bekerja sudah di ladang-ladang jagung mereka. Jumlah warga yang beberapa orang — terutama lansia — nanti saya jumpai saat salat berjamaah di masjid pada saat zuhur tiba. Jumlah yang agak banyak pada saat salat berjamaah magrib dan subuh karena mereka sudah kembali dari ladang.













