Ketika Sekolah Membuka Pintu, Catatan atas Buku Klinik Inklusi Karya Yeni Rahman

Selain itu, buku ini berhasil mengkritik praktik pendidikan inklusi yang hanya berhenti pada label formalitas. Pertanyaan “Sekolah ramah atau sebatas formalitas?” menjadi kritik yang relevan terhadap banyak institusi pendidikan hari ini. Penulis mengingatkan bahwa menerima siswa berkebutuhan khusus secara administratif tidak otomatis berarti menghadirkan ruang belajar yang benar-benar inklusif. Kritik ini penting karena sering kali sekolah merasa telah inklusif hanya karena membuka pendaftaran, padahal secara sosial anak masih mengalami keterasingan.

Kelebihan lain buku ini terletak pada gaya bahasanya. Yeni Rahman menulis dengan diksi yang lembut, reflektif, dan penuh empati. Banyak kalimat yang terasa seperti renungan, bukan sebatas paparan ilmiah. Itu membuat buku ini nyaman dibaca, bahkan bagi pembaca yang tidak berasal dari dunia pendidikan. Ada nuansa sastra dalam cara penulis memotret ruang kelas, guru, orang tua, dan anak-anak. Kadang pembaca merasa sedang membaca esai kemanusiaan, bukan buku hasil penelitian.

Meski demikian, sebagai pembaca saya juga melihat bahwa beberapa bagian buku terasa cukup repetitif, terutama dalam penegasan bahwa pendidikan inklusi adalah gerakan kemanusiaan. Beberapa gagasan diulang dengan pola narasi yang mirip. Namun pengulangan itu tampaknya memang disengaja untuk memperkuat pesan moral buku ini. Dan justru di situlah identitas buku ini terlihat yakni ia ingin memastikan pembaca tidak hanya memahami konsep inklusi secara akademik, tetapi juga merasakannya secara emosional.

BACA JUGA:  Pangeran Diponegoro, Daeng Nuhung dan Becak di Makassar

Pada akhirnya, Klinik Inklusi bukan hanya buku tentang pendidikan anak berkebutuhan khusus. Ia adalah buku tentang cara manusia memandang manusia lain. Buku ini mengingatkan bahwa sekolah terbaik bukan sebatas tempat mencetak prestasi, tetapi tempat setiap anak merasa dirinya berharga. Dan mungkin, di tengah dunia pendidikan yang semakin sibuk mengejar angka dan standar, pesan sederhana itulah yang justru paling penting untuk diingat.

Parang Tambung, 21/5/26