News  

Meraba Jalur; Menyusur Nadi Pulau dan Membaur

Oleh: Elmita Ayusyifa (Alumni Fakultas Kehutanan Unhas)

Makassar, NusantaraInsight — Ada begitu banyak kisah yang layak untuk dipotret dan dituliskan dari kunjungan kami ke Barrang Lompo.

Sebagai warga yang tinggal di Kota Makassar, yang bergantung setiap hari untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain menggunakan motor pribadi dan jarang berjalan kaki, saya bertolak dari titik itu dalam perjalanan kali ini.

Berjalan kaki, sayangnya, tidak menjadi pengalaman yang netral bagi saya kendati saya menyukainya.

Saya hidup dengan gangguan kecemasan yang membuat saya sangat mudah kewalahan oleh rangsangan indera.

Dari hal tersebut, saya memutuskan untuk menambah bumbu pada metode Transect Walk di Barrang Lompo kali ini, dengan harapan saya dapat mengulik rasa lebih dalam; saya melepas alas kaki untuk berjalan dan merasakan pulau ini dengan menajamkan indra saya semaksimal mungkin.

Transect Walk di Barrang Lompo merupakan bagian dari kegiatan PARKIR (Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif dan Rendah Emisi). Kegiatan ini merupakan program WRI (World Resources Institute) Indonesia atas dukungan UKPACT.

BACA JUGA:  Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Sulbar Laporkan SPT Tahunan 2025 Melalui Coretax

Benar saja, berbekal indra yang dipertajam dan berimbas pada mendorong batas sensitivitas sensorik saya, membuat saya bisa merasakan pulau ini tanpa perantara, memberikan saya sebuah pengalaman yang begitu beringas dalam mengukir kesan.

Pulau ini tidak lagi hanya terlihat; ia terasa. Dan bagi saya, ini bukan sekadar pengalaman sensorik yang memekakkan kepala.

Titik kami bermula di rumah Daeng Dadi. Mengambil jalur kiri menelusuri perempatan, menelusuri nadi-nadi kecil pulau.

Permukaan jalan yang panas, jalan yang tidak rata, serpih demi serpih yang tajam; semua lapis rasa menjadi jauh lebih melelahkan. Gerakan saya melambat, saya berakhir mengamati dan menyerap berbagai hal.

Paving block banyak yang mulai mencuat, jalanan tidak rata dengan lubang di sana-sini. Selokan yang dibiarkan menganga dan siap melahap kaki-kaki yang berlari dengan sekenanya.

Di tengah itu semua, ada secercah gembira yang timbul dalam benak saya ketika menemukan jalur penuntun bagi kawan disabilitas netra.

Saya menelusuri block yang warna kuningnya nyaris tak terlihat karena tertimbun debu dan pasir. Namun, saya ditampar kenyataan begitu menelusuri balok demi baloknya. Rasanya seperti ada yang dimulai, tetapi, tak pernah benar-benar selesai.

BACA JUGA:  Myanmar, Kafilah MQK Internasional 2025 Pertama Tiba di Sulsel

Selain itu, saya juga mengamati akses menuju Puskesmas, sekolah, dan masjid. Jalur-jalur ini menjadi nadi utama pergerakan warga. Dilalui setiap hari, oleh semua usia tanpa tapi.