Namun, dari berbagai obrolan saya dengan warga yang saya jumpai, muncul jawaban yang hampir seragam dan justru kontradiksi terhadap apa yang saya rasakan: semua tersedia tanpa kendala.
Seolah rintang yang membebani indra saya begitu ganas tidak pernah hadir dalam benak para penghuninya.
Bukan karena kondisinya benar-benar ideal, melainkan karena mereka sudah terbiasa dan tidak sekalipun terbesit impi dan harap akan keadaan yang sama sekali lain.
Keterbatasan itu tidak lagi terasa sebagai hambatan, tetapi sebagai bagian dari keseharian yang diterima begitu saja dan dapat diatasi dengan kreativitas mereka dalam memanfaatkan berbagai bentuk kendaraan.
Walau terlihat cukup dan dinilai layak oleh warganya, pada akhirnya saya menyadari: nyaman itu karena warganya tak tahu bila sepatutnya mereka mendapatkan fasilitas yang lebih layak.
Mobilitas yang mereka miliki tidak sepenuhnya lahir dari kesadaran atau desain, tetapi dari keterbatasan akses karena mereka tinggal terpisah dari Kota Makassar. (*)












