Semakin lama saya berjalan, saya jadi terpikirkan sisi lain. Apakah ruang ini benar-benar untuk semua orang?
Karena yang saya rasakan dengan kaki telanjang saya adalah: berbagai rintang yang sempat menabrak kaki saya untuk melangkah dengan nyaman dan aman.
Saya yang punya penglihatan jernih dan kaki yang lincah melangkah ke sana kemari saja menguak berbagai hambatan.
Dalam perjalanan menyusuri, kami sempat mengukur sudut kemiringan pada fasilitas-fasilitas yang menjadi jantung kehidupan pulau.
Hasilnya, sebagian besar fasilitas tersebut dapat dikategorikan sebagai fasilitas umum yang tidak aksesibel bagi penyandang disabilitas yang menggunakan alat bantu, khususnya kursi roda.
Di sini, pertanyaan saya berkembang. Jika berjalan kaki menjadi salah satu cara utama bergerak di pulau ini, apakah ruangnya benar-benar dirancang untuk semua orang?
Pengalaman tubuh saya memberi jawaban yang cukup jelas.
Jika bagi saya, yang hanya berjalan dalam waktu singkat, sudah terasa melelahkan dan tidak aman; maka bagi mereka yang lebih rentan, hambatan ini sudah menjadi keseharian.
Namun, dari berbagai obrolan saya dengan warga yang saya jumpai, muncul jawaban yang hampir seragam dan justru kontradiksi terhadap apa yang saya rasakan: semua tersedia tanpa kendala.
Seolah rintang yang membebani indra saya begitu ganas tidak pernah hadir dalam benak para penghuninya.
Bukan karena kondisinya benar-benar ideal, melainkan karena mereka sudah terbiasa dan tidak sekalipun terbesit impi dan harap akan keadaan yang sama sekali lain.
Keterbatasan itu tidak lagi terasa sebagai hambatan, tetapi sebagai bagian dari keseharian yang diterima begitu saja dan dapat diatasi dengan kreativitas mereka dalam memanfaatkan berbagai bentuk kendaraan.
Walau terlihat cukup dan dinilai layak oleh warganya, pada akhirnya saya menyadari: nyaman itu karena warganya tak tahu bila sepatutnya mereka mendapatkan fasilitas yang lebih layak.
Mobilitas yang mereka miliki tidak sepenuhnya lahir dari kesadaran atau desain, tetapi dari keterbatasan akses karena mereka tinggal terpisah dari Kota Makassar. (*)













