Kartini Ismail dan Semangat Kerelawanan: Dari Kader Posyandu Hingga Pemandi Jenazah

“Semua itu saya lakukan, untuk menciptakan warga, kelurahan, kecamatan sehat, dengan menciptakan masyarakat yang tanggap sehat dan tanggap bencana,” imbuhnya.

*Meneruskan Pekerjaan Suami*

Membahas Kartini Ismail, bukan cuma itu, tetapi bisa dari beragam angel. Karena perempuan paruh baya yang tidak pilih-pilih makanan ini, dikenal luas sebagai MC.

Katanya, ilmu cuap-cuap ia dapat melalui belajar secara otodidak. Namun, demi meningkatkan kapasitasnya, ia juga mengikuti pelatihan, biar keterampilan public speaking-nya lebih bagus lagi.

Sebagai MC, ia bisa wara-wiri di acara wedding, juga acara-acara formal dan informal. Walau MC menjadi profesinya, tetapi ia mengaku tidak mematok tarif tertentu.

Kisah Kartini Ismail bagai adegan film dengan plot twist. Dari MC, ia tiba-tiba bisa berganti peran sebagai pemandi jenazah.

“Saya menjadi pemandi jenazah, setelah tertarik melihat pekerjaan almarhum suami sebagai pemandi jenazah,” ungkapnya lirih.

Suaminya, Ismail Nappu, berdarah Makassar. Wafat dalam usia 50 tahun, pada 10 Oktober 2015.

Hanya berselang 9 (sembilan) hari setelah suaminya meninggal, Kartini Ismail terkena stroke. Drama hidup itu berlangsung justru di saat ia sedang memandu acara sebagai MC.

BACA JUGA:  Sinergi Urban Farming & Rumah Pangan Kita (RPK)

Sebagai orang tua tunggal, Kartini Ismail membesarkan keempat anaknya, masing-masing Muhammad Resky Iskaeyanto, Utari Nur Istyaningrum, Dinda Nur Salwadillah, dan Muhammad Ilham Aditya.

Suaminya, semasa hidup, merupakan support system baginya. Bukti paling sederhana berupa potongan koran terbitan tahun 2012 yang ditempelkan suaminya pada pintu lemari.

Potongan berita surat kabar itu, menampilkan profil singkat Kartini Ismail sebagai kader Posyandu selama 20 tahun. Ketika itu, Kartini Ismail masih berusia 43 tahun.

Dokumentasi yang bagai majalah dinding itu, menjadi penyemangatnya hingga kini.

Kartini Ismail, melanjutkan ceritanya sebagai pemandi jenazah. Terkadang, katanya, ada hal-hal di luar nalar yang terjadi.

“Ada jenazah yang mau dipasangkan mukenanya, tiba-tiba mukena itu terbalik. Ada juga yang semasa hidupnya dikenal orangnya jutek, tapi saat kami urus jenazahnya, wajahnya tampak bercahaya dan wangi,” kisah Kartini Ismail.

Ada yang miris dari pengalamannya sebagai pemandi jenazah. Dia pernah menemukan, anak yang enggan memandikan jenazah ibunya hanya karena alasan jijik.

Untuk itu, dia butuh ketenangan guna mengatasi dinamika pekerjaannya. Katanya, biar tidak menjadi fitnah dan menutup aib jenazah.

BACA JUGA:  AB Iwan Azis: Prinsip Kita, Tidak Mau Diatur

“Kita mesti bijak, full sabar, dan penuh konsentrasi. Setelah memandikan jenazah, banyak energi yang terserap,” tambahnya.